Minggu, 03 Oktober 2010

Mengapa Dewa Siva Berpenampilan "Nyentrik"?

Gambar atau lukisan Dewa Siva pasti memberikan kesan tersediri bagi siapapun yang mau merenung. Beliau adalah Deva yang paling agung sehingga nama lainnya adalah Mahadewa. Tetapi penampilannya sungguh tidak mencerminkan keagungannya. Dewa Siva mengolesi seluruh tubuhnya dengan abu mayat, bercelana kulit binatang, berkalung dan bergelang ular cobra, menghias tubuhnya dengan tulang belulang dan kadang kala untaian tengkorak manusia melingkar dilehernya. Dengan kata lain, Dewa Siva berpenampilan sungguh nyentrik. Mengapa demikian? Padma Purana Uttara-Khanda Bab 235-236 menjawab dengan penuturan ceritra dialog antara Dewa Siva sendiri dengan istrinya, Dewi Parwati.

Dewi Parwati berkata, Junjunganku, anda pernah memberitahu saya agar seseorang menghindar bicara dengan pasandi, orang asurik yang atheistic. Jika bicara dengannya, maka itu akan lebih buruk daripada berbicara dengan orang candala, orang buangan amat kotor dan hina, Mohon beritahu hamba, bagaimana tanda-tanda orang pasandi dan cirri-ciri pisik yang nampak pada dirinya.

Dewa Siva menjawab, orang-orang yang diliputi kebodohan menyatakan devw lain siapapun lebih tinggi kedudukannya dari Visnu, sang penguasa jagat, mereka inilah disebut pasandi, orang orang brahmana yang tidak mengenakan tanda dan simbul seperti sanka, cakra dan tilaka pada dahinya, mereka inilah disebut pasandi. Orang brahmana yang tidak menuruti sastra, tidak memiliki bakti kepada Tuhan, orang yang berperilaku menurut kemauannya sendiri, dan menghaturkan persembahan ke dalam api korban suci (yajna) untuk memuja dewa-dewa selain Tuhan Yang Maha Agung, Sri Visnu, juga disebut pasandi. Sebab Sri Visnu lah penikmat segala persembahan yajna dan pujaan para brahmana.

Mereka yang menganggap Sri Visnu setingkat dengan dewa-dewa lain seperti Brahma dan saya sendiri Rudra, harus selamanya dianggap pasandi.

Dewi Parvati berkata, Junjunganku, oh dewa terbaik, hamba ingin bertanya sesuatu yang rahasia. Atas dasar cinta kepadaku, mohon jawab pertanyaan hamba, hamba sangat ragu, sastra mencela memakai tengkorak manusia, menghias badan dengan abu mayat dan mengenakan kulit binatang. Tapi anda sendiri melakukan semua itu, anda belum pernah menjelaskan semua ini kepda hamba, karena itu, oh junjungan hamba, maafkan pertanyaan hamba.

Ditanya seperti itu, Dewa Siva menjelaskan kepada sang istri rahasia besar tentang perilakunya sendiri. Dahulu kala pada masa pemerintahan Syayambhu Manu, hidup banyak asura perkasa seperti Mamuci, musuh para dewa (Bhagavata Purana 8.11.23-40). Mereka gagah perkasa, semua memuja Sri Visnu, dan melakukan penebusan dosa. Melihat kenyataan ini, para dewa yang dipimpin oleh deva Indra menjadi frustasi dan ketakutan, lalu mendatangi Sri Visnu dan berlindung kepada-Nya.

Para Dewa berkata, oh Kesava, hanya andalah yang mampu menaklukkan para asura yang perkasa ini. Mereka tidak bisa dikalahkan oleh para Dewa, dan mereka telah menghapus dosa-dosanya melalui pertapaan.

Dewa Siva lanjut berkata, mendengar kata-kata para dewa yang ketakutan, Sri Visnu, Purusotama, memenangkan mereka. Lalu Beliau berkata kepadaku sebagai berikut, oh Rudra yang berlengan perkasa, oh Dewa yang terbaik, untuk membingungkan musuh-musuh para dewa, mohon dirancang perilaku untuk diikuti oleh para pasandi. Tuturkan kepada mereka kitab-kitab purana gelap (purana dalam sifat tamas) yang akan menyesatkan mereka, Oh anda yang cerdas, anda hendaknya ciptakan kitab-kitab agama yang akan menyebabkan para asura kebingungan.

Melalui kebhaktian kepada-Ku dan demi kebaikan seluruh jagat, anda hendaknya mendekati para rishi yang perperangai atheistic seperti Kanada, Gautama, Sakti, Upamanyu, Jaimini, Kapila (bukan Kapila putra Devahuti), Durvasa, Mrikiandu, Brhaspati, Bhargava dan Jamadagni. Masukan kedalam pikiran mereka tenagamu yang mengandung kemauanmu. Dengan dimasuki oleh tenagamu, mereka akan menjadi para pasandi besar. Dengan diberikan kekuatan olehmu, orang-orang brahmana ini akan menuturkan keseluruh tiga dunia kitab-kitab purana dan ajaran-ajaran rohani dalam sifat kegelapan (tamasa-guna) Oh Siva, pada dirimu sendiri, anda hendaklah mengenakan hiasan berupa tulang-tulang dan tengkorak manusia, abu mayat dan kulit binatang. Dengan penampilan demikian, bingungkan semua di seluruh tiga dunia. Anda juga hendaklah meresmikan ajaran kehidupan Pasupata beserta bagian-bagian kelompoknya seperti Kankala, Saiva, Pasanda, dan Mahasaiva. Melalui orang-orang ini hendaknya anda ajarkan satu doktrin yang para pengikutnya tidak mengenakan pengenal khusus dan mereka hidup diluar ajaran veda. Berhiaskan tulang-tulang dan abu mayat,mereka akan kehilangan kesadaran yang lebih tinggi dan akan menganggap anda sebagai Tuhan.

Dengan menuruti doktrin demikian, semua asura dalam sekejap akan menjadi tidak peduli kepada-Ku, tidak ada keraguan tentang hal ini, oh Rudra nan perkasa, dalam setiap jaman, dalam reinkarnasi-Ku yang berbeda-beda, Aku juga akan memuja dirimu untuk menipu para asura. dengan menuruti doktrin-doktrin demikian, pasti mereka akan jatuh.

Dewa Siva lanjut berkata kepada Devi Parvati, oh anda nancantik, setelah mendengar kata-kata Sri Visnu, meskipun saya berbicara fasih, saya jadi tak berdaya dan diam. Kemudian setelah sujud kepada Beliau, saya berkata, oh Tuhan ku, jika hamba laksanakan apa yang anda telah katakana, itu pasti akan menuntun diri hamba menuju kehancuran spriritual. Tidaklah mungkin bagi hamba melaksanakan perintah-Mu. Tetapi perintah-Mu harus dilaksanakan, ini sungguh menyakitkan.

Oh, Dewi, mendengar kata-kataku, Sri Visnu bicara begitu rupa untuk mengembalikan kebahagiaanku, Beliau berkata ini tidak akan menyebabkan kehancuranmu. Lakukan seperti apa yang saya perintahkan demi kebaikan para Dewa. Saya juga akan memberi anda cara-cara mempertahankan diri sementara anda sibuk mengajarkan filsafat asurik ini.

Lalu dengan penuh kasih Sri Visnu memberikan doa-doa pujian yang dikenal dengan nama Visnu-sahasra-nama kepadaku. Beliau berkata dengan menempatkan diri-Ku dihatimu, ucapkan mantra-Ku yang abadi ini. Mantra nan perkasa yang terdiri dari enam baris kata ini, berhakekat spiritual dan menganugrahkan pembebasan bagi mereka yang memuja-Ku dengan bhakti. Tidak ada keraguan akan hal ini.

Indivara-dala syamam padma patra-vilocanam

sankhanga-sarngesu-dharam sarvabharana-bhusitam

pita-vastram catur bahum janaki-priya vallabham

sri ramaya nama ity evam uccaryam mantram-uttamam

sarva duhkha haram caitat papinam api mukyi-dam

imam mantram japan nityam amalas tvam bhavisyasi


Hamba sujud kepada Beliau yang berwarna gelap bagaikan bunga padma biru, yang bermata seindah bunga padma, memegang sanka, cakra dan busur sranga, berdandankan berbagai macam perhiasan, mengenakan jubah kuning, bertangan empat dan pujaan tercinta sita devi. Mantra paling utama sriramaya namah hendaklah diucapkan. Mantra ini meniadakan segala kesedihan dan bahkan memberikan pembebasan kepada orang-orang berdosa.Orang yang secara teratur mengucapkan mantra ini, akan bebas dari segala dosa. (Padma purana 235.44-46)

Segala reaksi dosa akibat memoleskan abu mayat dan mengenakan tulang-tulang orang mati sebagai hiasan pada badan akan hapus dan segala sesuatu jadi bertuah dengan mengucapkan mantra-Ku ini. Oh Dewa yang paling baik, atas karunia-Ku, bhakti hanya kepada-Ku akan timbul. Pujalah diri-Ku, didalam hatimu, turuti perintah-Ku, karena cinta kasih (bhakti) kepada-Ku, maka segala sesuatu akan menjadi bertuah bagimu.

Setelah memberi perintah demikian kepadaku, oh Dewi, lalu Beliau meninggalkan para dewa yang berkumpul itu, kembali ketempat tinggalnya masing-masing. Para dewa yang dipimpin oleh Indra itu memohon kepadaku, oh Mahadeva, Siva segeralah laksanakan kegiatan kegiatan yang menguntungkan ini, sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Sri Visnu.

Mahadeva lanjut berkata kepada Dewi Parvati, oh anda nan suci, demi kebaikan para dewa, maka saya berperilaku seperti pasandi. Semenjak itu saya mulai mengenakan untaian kalung tengkorak dan tulang-tulang, memoleskan abu mayat dan mengenakan kulit binatang pada badanku. oh anda nan suci, sebagaimana diperintahkan oleh Sri Visnu, kemudian saya menyebarkan kitab-kitab purana tamasik (purana dalam sifat tamas, kegelapan) dan ajaran-ajaran saivaisme yang pasandi, atheistik.

Oh, anda yang tak berdosa, dengan memasuki Gautama dan para brahmana lain melalui tenagaku, saya menyebarkan ayat-ayat agama diluar ajaran veda. Dengan menuruti sistim pemujaan yang saya berikan, maka semua asura jahat menjadi tak perduli kepada Sri Visnu, dan mereka diliputi kebodohan. Dengan mengoleskan abu mayat ketubuhnya dan melaksanakan pertapaan keras, mereka berhenti memuja Sri Visnu dan hanya memujaku dengan mempersembahkan daging, darah dan pasta cendana.

Dengan mendapar berkah dariku, orang-orang asura itu menjadi mabuk dengan kekuatan dan kebanggan. Mereka amat melekat pada objek-objek indriya, penuh nafsu dan kemarahan. Dalam keadaan seperti itu, tanpa sifat baik apapun, mereka akhirnya dikalahkan oleh para deva. Tanpa pengetahuan tentang jalan kehidupan yang benar, mereka yang menuruti ajaranku ini pasti masuk neraka.

Oh Dewi, demikianlah perilaku ini hanya untuk diriku saja demi kebaikan para dewa. Dengan menuruti perintah Sri Visnu, maka saya menghias diriku dengan abu mayat dan tulang tulang orang mati. Ciri-ciri jasmani ini hanya dimaksudkan untuk menipu orang-orang asurik. Didalam hatiku saya selalu bermeditasi kepada Tuhan, Sri Visnu dan senatiasa mengucapkan mantra-Nya. Dengan mengucapkan mantra utama yang terdiri dari enam suku kata (om ramaya namah) ini, kita senantiasa merasakan gairah amrita kekal kebahagiaan. Oh wanita mulia berwajah indah, saya telah jawab semua yang anda tanyakan. Dengan penuh kasih, saya bertanya kepadamu, apa lagi yang anda ingin dengar ?.

Dewi Parvati berkata, Oh anda nan suci, beritahulah saya tentang kitab-kitab suci tamasik bikinan para brahmana yang tidak memiliki bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oh penguasa para dewa, mohon beritahu nama-namanya secara berurutan.

Deva Siva menjawab, Oh Devi, dengarlah. secara berurutan saya akan sebutkan kepadamu tentang ayat-ayat agama tamasik. Hanya dengan mengingat ayat-ayat agama tamasik ini, bahkan orang bijaksana sekalipun akan tertipu. Pertama, saya sendiri menyebarkan ajaran saiva, pasupata dan ayat-ayat agama serupa. Setelah tenagaku memasuki dirinya, lalu Rishi Kanada menyebarkan filsafat vaisesika. Begitu pula Gautama mengajarkan filsafat nyaya, dan Kapila mengajarkan pilsafat samkhya yang atheistik. Brhaspati mengajarkan doktrin Carvaka yang banyak dicela, dan Visnu sendiri dalam wujud sang Buddha menyebarkan ajaran palsu buddhisme untuk menghancurkan para asura.

Filsafat mayavada ini adalah kepercayaan kotor dan jahat.Pilsafat ini adalah ajaran Buddhisme terselubung. Parwati tercinta, pada masa Kali-Yuga saya lahir dalam wujud seorang brahmana dan mengajarkan pilsafat rekayasa ini. (Padma Purana 6.236.7).

Filsafat mayavada ini menyebabkan kata-kata dari ayat-ayat kitab suci kehilangan makna sebenarnya, sehingga filsafat ini dicela di dunia. Filsafat ini menganjurkan supaya orang meninggalkan tugas-kewajibannya, sebab orang yang telah jatuh dari tugas dan kewajibannya berkata bahwa meninggalkan tugas dan kewajiban adalah ajaran agama yang sebenarnya. Saya juga mengajarkan bahwa Tuhan dan roh individual adalah sama. (Padma Purana 6.236.8-9).

Dengan maksud untuk membingungkan orang-orang atheistik pada masa Kali-Yuga, saya jelaskan bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah tanpa wujud dan tanpa sifat serta ciri apapun (Padma Purana 6.236.10).

Begitu pula dalam menjelaskan Vedanta-sutra, saya ajarkan pilsafat mayavada yang sama dengan maksud untuk menyesatkan seluruh penduduk ke arah atheisme dengan menolak adanya wujud pribadi Tuhan Yang Maha Esa. (Padma Purana 6.236.11).

Demikian dewa Siva menjelaskan tentang diri dan ajarannya kepada sang istri dewi Parvati.

Sloka-sloka Padma-Purana diatas dikutip dalam Caitanya-Caritamrta Adi – Lila Bab VII. Sri Caitanya mengutip sloka-sloka ini ketika berdiskusi dengan Prakasananda Sarasvati dan para sannyasi mayavadi di Benares. Beliau berkehendak menunjukkan kepada mereka bagaimana Deva Siva telah muncul pada masa Kali-Yuga sebagai Sripada Sankaracarya untuk mengajarkan pilsafat monisme ( yaitu Tuhan dan makhluk hidup adalah satu dan sama).

Artikel ini diterjemahkan dari majalah Sri Krishna Kathamrta oleh IGN Heka Wikana dan disadur ulang oleh Iant Sulistiyanto

MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL DENGAN BHAGAVAD GITA

Bhagavad-Gita adalah Veda-siddanta, kesimpulan Kitab suci Veda (Perhatikan Bhagavad Gita 15.15 dan Gita – dhyanam sloka 4). Dikatakan bahwa seseorang yang dengan tekun mempelajari dan mengamalkan ajaran Bhagavad –Gita dalam kehidupannya, dijamin tidak lahir kembali di dunia fana ini dan mencapai alam rohani nan kekal dan membahagiakan (Bhagavad Gita 2.72, 4.9, 8.5, 9.34 dan 18.62)

Selanjutnya dikatakan bahwa dengan mengamalkan ajaran Bhagavad-Gita dalam kehidupan se-hari hari, seseorang akan mampu menempatkan dirinya pada tingkat spiritual sehingga dia tidak terpengaruh oleh suka duka kehidupan material dunia fana (Bhagavad Gita 2.53, 55-59)

Kebahagiaan material dunia fana pada hakekatnya semu dan berlangsung singkat, kebahagiaan material ini dicapai dengan banyak duka,kesusahan,kesengsaraan dan derita. Oleh karena begitu banyak derita yang harus dirasakan di alam fana agar bias secara semu dan material bahagia, maka Veda ( Bhagavad –Gita ) menyimpulkan bahwa dunia fana ini adalah tempat sementara yang penuh dengan duka (Bhagavad Gita 8.15)

Tetapi Bhagavad –Gita juga menyatakan bahwa dengan mengamalkan ajaran spiritual ini dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa hidup sungguh bahagia, meskipun masih tinggal di alam material. Ini bisa dicapai jika ia terbebas dari pengaruh sifat-sifat alam material (Bhagavad Gita 14.20 ) dan berada pada tingkat spiritual (Bhagavad Gita 14.26)

Masalahnya sekarang adalah bagaimana caranya membebaskan diri dari pengaruh sifat-sifat material ini? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, kita harus memahami sifat-sifat alam material yang mengikat segala mahluk dan menyebabkan berlangsungnya beraneka macam kegiatan material dialam fana.

Veda ( Bhagavad-Gita ) menyatakan bahwa ada tiga (3) sifat alam material yaitu: Sattvam (kebaikan),Rajas (kenafsuan) dan Tamas (kegelapan). Secara umum dikatakan bahwa sifat alam Sattvam melahirkan ketenangan, kedamaian, pengetahuan dan kebahagiaan material, sedangkan sifat alam Rajas dan Tamas melahirkan kekwatiran, kecemasan dan ketakutan, ketidaktahuan ketidakpuasan, derita fisik dan mental. Dikatakan pula bahwa sifat alam sattvam melahirkan watak/tabiat/peringai kedewataan ( Daivi-sampad) sedangkan Rajas dan Tamas melahirkan keraksasaan (Asuri-sampad). Watak kedewataan disebut watak surik dan watak keraksasaan disebut asurik

Watak surik (daivi-sampad) adalah sifat baik,mulia, luhur, mensejahterakan dan menyenangkan. Sedangkan watak asurik (asuri-sampad) adalah watak buruk, rendah, kotor, jahat, merusak dan menyengsarakan. Veda mengajarkan agar menanggalkan sifat-sifat asurik dan mengembangkan sifat-sifat surik supaya hidup senang dan bahagia di dunia fana ini. Untuk mengembangkan sifat-sifat surik dan meniadakan sifat-sifat asurik ini, Veda mewajibkan sang manusia hidup dengan menuruti berbagai macam pertapaan (tapa) dan pantangan (vrata) serta menjahui berbagai macam perbuatan yang dilarang (asurik)

Menurut Veda, dalam masa Kali-yuga yang disebut jaman modern sekarang, sifat alam rajas dan tamas begitu tebal menyelimuti masyarakat manusia (Bhagavata Purana 12.1.40 dan 12.3.30) sehingga mayoritas penduduk dunia tergolong asura. Dan seiring dengan majunya teknologi, sifat/watak/perilaku/peringai/tabiat asurik dan beraneka macam doktrin asurik menyebar begitu cepat keseluruh dunia melalui bermacam-macam sarana komunikasi (yang dibilang amat) canggih. Demikianlah pola hidup asurik kini telah mendunia atau bersifat GLOBAL. Ia mencengkram seluruh aspek kehidupan masyarakat manusia Kali-yuga yang dikatakan paling beradab, kehidupan hedonistic, sekularistik dan materialistic adalah jenis-jenis pola hidup asurik.

Ciri utama pola hidup asurik modern adalah: kegiatan pemuasan indria jasmani amat berlebihan,k ebanggaan atas pemilikan harta, pangkat, jabatan duniawi dan prestasi material, dan pelaksanaan ajaran agama yang tidak sesuai dengan petunjuk sastra (kitab suci).Pola hidup asurik seperti ini hanya membuat sang manusia tidak pernah merasa puas, apalagi bahagia. Manusia mudah bertengkar karena masalah material kecil yang tidak begitu berarti, manusia tidak begitu peduli apa itu dosa, sebab ia hanya berpikir mendapat banyak uang untuk kepusan indria jasmani.

Sementara moralitas manusia merosot terus,pencemaran lingkungan semakin meluas, kerusakan hutan semakin parah, rakyat harus bekerja semakin keras agar bisa hidup, dan pemanasan global semakin mengancam kehidupan, semakin banyak orang terserang penyakit mental, perbuatan terror dan bebagai tindak kekerasan semakin sering terjadi dan sulit diatasi, perbuatan korupsi para pemimpin terus menjalar dalam berbagai lembaga Negara dan setiap keluarga terbebani oleh masalah kehidupan yang semakin banyak dan ruwet.

Itulah akibat-akibat yang timbul dari pola hidup asurik yang telah mendunia (global) yang menyengsarakan kehidupan mayoritas penduduk dunia dewasa ini.Merupakan tantangan global yang harus segera diatasi oleh para pemimpin dunia dan orang–orang yang berbudi luhur yang sungguh-sungguh mendambakan kehidupan sejahtera bagi penduduk dunia.

Dalam tulisan ini ditawarkan petunjuk-petunjuk kitab suci Veda yaitu Bhagavad-gita untuk mengatasi dan menghancurkan sifat-sifat asurik yang kini mengotori hati kebanyakan manusia Kali-yuga yang disebut makhluk modern yang paling maju dan beradab.

Tetapi petunjuk-petunjuk tersebut bisa dimengerti hanya jikalau anda mengerti dengan betul tentang sifat-sifat surik (daivi-sampad) dan sifat-sifat asurik (asuri-sampad) sebab pada jaman modern sekarang ini, orang amat sulit mengerti apa itu sifat-sifat, pendapat, perbuatan dan kegiatan buruk, jelek, kotor, rendah, hina, menyakitkan dan menyengsarakan.

Perlu dikemukakan disini bahwa petunjuk-petunjuk dan pernyataan Veda (Bhagavad-gita) adalah kebenaran, sebab ini semua adalah berhakikat spiritual. Dikatakan,”sattvam yad Brahman darsanamVeda hanya bisa dimengerti dengan mengembangkan sifat alam sattvam, kebaikan (Bhagavata Purana 1.2.24) karena itu , anda tidak perlu terlalu banyak berargumentasi bila selama ini kebiasaan dan kegiatan kita tergolong rajasik dan tamasik.

Solusi yang ditawarkan Veda untuk mengatasi tantangan global yang menjangkiti penduduk dunia dewasa ini adalah mempraktekan atau melaksanakan petunjuk-petunjuk Veda (Bhagavad-gita)dalam kehidupan sehari-hari.

Petunjuk yang diberikan oleh Veda (Bhagavad-gita) dalam mengatasi tantangan global sifat-sifat asurik (asurik sampad) dalam masa Kali-yuga sekarang ini adalah sangat sederhana sekali yaitu hanya perlu melaksanakan Sankirtana-yajna dalam kehidupan sehari-hari.” Satatam kirtayanto mam “ senantiasalah mengumandangkan keagunganku dengan nama-nama suci-Ku. (Bhagavad Gita 9.14)

Sankirtana berarti memuja dan memuji Tuhan dengan menyanyikan / mengidungkan/ mengumandangkan nama –nama suci Beliau secara beramai-ramai. Nama-nama suci Tuhan tersusun berupa Maha mantra Kalisantarana Upanisad sebagai berikut :

Hare Krsna Hare Krsna Krsna Krsna Hare Hare

Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

Dikatakan bahwa enam belas nama Tuhan ini kali kalmasa nasanam, menghancurkan segala pengaruh Kali-yuga yang timbul akibat merajalelanya sifat asurik di masyarakat dewasa ini. Banyak sekali sloka-sloka Veda yang menyatakan praktek kerohanian yang paling manjur dalam jaman Kali-yuga yang sedang berlangsung adalah dengan melaksanakan sankirtana-yajna ini.” Kaler dosa nidhe…………..kirtanad eva krsnasya mukta-sangah param vrayet, meskipun Kali-yuga penuh dengan kegiatan berdosa, setiap orang bisa dibebaskan dari dunia material ke dunia rohani hanya dengan mengumandangkan nama-nama suci Sri Krishna (Bhagavata Purana 12.3.51)

Selanjutnya dikatakan “kalu sankirtya kesavam, pada jaman Kali-yuga praktek kerohanian (yang dianjurkan) adalah sankirtana kepada Tuhan Kesava (Visnu Purana 6.21, Padma Purana Uttara Kanda 72.25 dan Brhan-naradiya-purana 38.97 ) Kalau tad dhari kirtanat, pada jaman Kali-yuga dianjurkan praktek kerohanian sankirtana kepada Tuhan Hari (Bhagavata Purana 12.3.52) kalau tu nama matrena pujyate bhagavan harih, pada jaman Kali, orang orang dianjurkan memuja Tuhan Hari dengan mengumandangkan nama-nama suci-Nya (Narayana –samhita )

Dalam Brhan-naradiya-purana 38.126 secara khusus dikatakan, “harer nama harer nama harer nama eva kevalam kalau nasty eva nasty eva nasty eva gatir anyata, pada jaman Kali, tidak ada cara lain, tidak ada cara lain, tidak ada cara lain untuk mencapai kemajuan rohani selain dari pada mengumandangkan nama-nama suci Tuhan Hari.”

Sankirtana adalah bagian dari proses jalan kerohanian bhakti ( bhakti-yoga).Berdasarkan bukti-bukti sloka Veda sebagaimana dikutip diatas. Sankirtana dapat diibaratkan sebagai obat paling mujarab untuk menyembuhkan masyarakat manusia yang kini sedang sakit material akibat sifat-sifat asurik mengotori hatinya.

Demikianlah saya sajikan tulisan ini, untuk dapat dijadikan bahan renungan dalam rangka menghadapi tantangan global sifat-sifat asurik yang menyengsarakan kehidupan penduduk dunia.

Kritik dan saran atas tulisan ini akan saya terima dengan senang hati, dengan harapan semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca yang tercinta.

Om Tat sat,

Karya IGN Heka Wikana

Dikutip oleh Nyoman Kama Jaya

Dikutip ulang oleh : Iant Sulistiyanto