Tampilkan postingan dengan label REFERENSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REFERENSI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Agustus 2020

Shankaracharya Penjelmaan Dewa Siwa, Penerus Misi Buddha Gautama

Umat Hindu umumnya telah akrab dengan konsep penyatuan Atman dengan Brahman (Moksa). Juga terhadap konsep “Tat Tvam Asi” Namun, tidak banyak yang tahu bahwa konsep itu diajarkan oleh Adi Sankaracharya, yang diyakini sebagai penjelmaan Dewa Siwa. Shankara, begitu beliau lebih dikenal secara luas, mengemban misi besar untuk mengembalikan ajaran Weda yang seolah tenggelam karena berkembangnya agama Buddha yang diajarkan oleh Buddha Gautama. Benarkah Atman dapat menyatu dan lenyap ke dalam Brahman?

Apa artinya “moksa”? Kalau pertanyaan itu, diajukan pada orang Hindu, sebagian pasti akan menjawab : “Moksa adalah bersatunya Atman dengan Brahman. Moksa adalah keadaan di mana diri kita kembali bersatu dengan Tuhan“ Bersatu dengan Tuhan? Apanya yang bersatu, diri kita? Artinya, suatu saat “diri” kita akan lenyap dan “merger” dengan Tuhan? Jadi, roh akan berhenti mengalami punarbhawa (reinkarnasi) setelah ia “menjadi” Tuhan?
Sepertinya, tidak banyak di antara kita yang pernah mempertanyakan lagi kebenaran konsep moksa yang satu ini. Kita seolah sudah merasa nyaman dan pede memberikan jawaban yang telah baku dan memang populer itu. Apalagi, logika pemahaman moksa dalam artian penyatuan antara atman dan Brahman itu didukung oleh contoh-contoh rasional yang konkret. Atman diibaratkan sebagai air sungai yang mengalir ke laut, sedangkan Brahman diumpamakan sebagai lautan. Ketika air sungai telah berhasil mencapai lautan, maka terjadilah penyatuan keduanya.

Kita tidak akan bisa lagi membedakan, mana yang air sungai dan mana yang air laut. Begitulah, saat mencapai moksa, sang atman tidak akan dapat dibedakan lagi dengan brahman, …..seperti halnya air sungai yang “merger” dengan air laut itu. Roh akan “lenyap” dan “menyatu” dengan Tuhan.

Sekilas, perumpaan air sungai dan air laut itu memang memadai untuk menggambarkan apa yang dialami oleh roh setelah ia moksa. Tetapi, contoh itu hanya tepat bagi seorang awam, yang tidak memahami seluk beluk atom, molekul dan persenyawaan kimia!

Memang benar, secara kasat mata, air sungai dan air laut itu “kehilangan identitasnya” masing-masing setelah mereka bersatu. Namun, orang yang memahami konsep persenyawaan antara berbagai molekul zat akan melihat kenyataan lain. Ia akan tahu, bahwa molekul air sungai terdiri dari atom-atom Hidrogen dan atom-atom Oksigen. Rumus molekul air adalah H2O. Artinya, satu atom oksigen mengikat dua atom hidrogen untuk membentuk satu molekul air. Begitupun air laut memiliki unsur-unsur penyusun yang sama.
Ketika air sungai bertemu air laut, terjadilah reaksi antara atom-atom hidrogen dan oksigen air sungai, dengan atom-atom hidrogen dan oksigen air laut. Mungkin dua atom hidrogen air sungai akan berikatan dengan satu atom oksigen air laut dan membentuk molekul baru. Bisa pula, satu atom oksigen air sungai mengikat dua atom hidrogen air laut. Dan seterusnya, dan seterusnya. Tetapi, jangan lupa bahwa masing-masing atom itu tidak pernah kehilangan “identitasnya”. Kalau kita tandai masing-masing atom itu, akan tampak atom hidrogen air sungai tidak berubah menjadi atom hidrogen air laut. Begitupun sebaliknya. Mereka hanya berikatan satu sama lain, tapi tidak ada pihak yang kehilangan “jati dirinya.” Artinya, jati diri atom-atom air sungai tetap ada, tidak lenyap, meskipun ia “menyatu” dengan atom-atom air laut.
Begitu pula dengan Atman dan Brahman. Kalau memang benar bahwa Atman dapat “menyatu dan lenyap” ke dalam Brahman, hal itu akan bertentangan dengan sifat-sifat sang roh (atman) yang diuraikan dalam kitab-kitab Weda.
Weda menjelaskan bahwa sang roh adalah energi atau daya hidup yang kekal. Penjelasan seperti itu sangat sesuai dengan Hukum Kekekalan Energi dalam ilmu fisika. Bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, energi hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Dengan demikian, roh tidak bisa musnah, tidak bisa lenyap atau kehilangan sifat individualitasnya. Ia hanya berpindah dari satu badan jasmani ke badan jasmani lainnya, sesuai dengan karmanya.
Dalam Kitab Bhagavad-gita 2.23 dan 2.24 Sri Krishna memperkuat penjelasan di atas, dengan menyatakan sebagai berikut:

nainaà chindanti çasträëi
nainaà dahati pävakaù
na cainaà kledayanty äpo
na çoñayati märutaù

acchedyo ’yam adähyo ’yam
akledyo ’çoñya eva ca
nityaù sarva-gataù sthäëur
acalo ’yaà sanätanaù

“Sang roh tidak pernah dapat dipotong menjadi bagian-bagian oleh senjata manapun, terbakar oleh api, dibasahi oleh air, atau dikeringkan oleh angin. Roh yang individual ini tidak dapat dipatahkan dan tidak dapat dilarutkan, dibakar ataupun dikeringkan. Ia hidup untuk selamanya, berada di mana-mana, tidak dapat diubah, tidak dapat dipindahkan dan tetap ada untuk selamanya.”

Jadi, jelaslah bahwa konsep Atman dapat menyatu dengan Brahman, lalu lenyap seperti yang sering dijelaskan itu sebenarnya kurang tepat. Contoh berikut mungkin akan lebih memperjelas kekeliruan konsep kita tentang moksa. Ada seekor burung yang bulu-bulunya berwarna hijau, lalu hinggap pada sebatang pohon yang daunnya rindang berwarna hijau pula. Sudah tentu, burung itu akan seolah-olah lenyap dan tampak “menyatu” dengan pohon itu. Orang yang kurang cerdas akan mengatakan bahwa burung itu telah mencapai “penyatuan” dan kehilangan jati dirinya. Padahal, bagaimana faktanya? Ya, jelas sekali. Burung berbulu hijau itu tidak pernah berubah menjadi pohon, ia tetap ada di ranting pohon itu, tidak kehilangan individualitasnya. Demikian halnya sang pohon. Keduanya tampak seolah-olah menyatu, hanya karena persamaan sifat, bukan karena yang satu menjadi yang lain.
Begitupula dengan sang roh (Atman), ia akan tetap menjadi percikan-percikan Tuhan yang bersifat kekal, dan tidak akan pernah dapat berubah menjadi Tuhan (Brahman).
Sebagaimana dinyatakan oleh Sri Krishna :” mamaivamso jiva-loke jiva-bhutah sanatanah” Para makhluk hidup di dunia yang terikat ini adalah bagian-bagian percikan yang kekal dari Diriku (Bhagavad-gita 15.7).
Lagi pula, air sungai masih akan ada kemungkinan untuk mengalami penguapan. Cahaya matahari akan membuat air laut menguap menjadi awan, lalu akan jatuh lagi ke daratan. Jadi, menyatunya Atman dengan Brahman, kalau memang hal itu terjadi, tidak akan bersifat kekal. Bukankah kita sendiri mengalami bahwa sifat roh adalah selalu giat? Bagaimana mungkin roh yang bersifat aktif dapat tinggal diam dalam kekosongan tanpa ada kegiatan? Dengan sifat aktif seperti itu, suatu saat roh akan jatuh lagi ke dalam lingkaran kelahiran dan kematian.
Bila kita lacak kembali asal usul ajaran penyatuan Atman dengan Brahman, kita akan temukan nama Adi Sankaracarya, salah seorang guru besar dan filosof yang sangat termasyur di India, dikenal sebagai pencipta filsafat Mayavada itu.

Lalu, mengapa Sankaracharya berbuat demikian? Mengapa beliau mengajarkan konsep yang berbeda dengan ajaran Weda yang sesungguhnya? Jawabannya, Sankaracharya memang mengemban tugas melanjutkan misi yang telah dirintis oleh Buddha Gautama.
Menurut Satsvarupa das Gosvami (1996) dalam Padma Purana terdapat uraian mengenai identitas Sankaracarya yang sebenarnya. Dia adalah penjelmaan Dewa Siwa yang mengemban misi khusus :
“Istriku Parvati, dengarlah penjelasan bagaimana aku menyebarkan kebodohan melalui filsafat Mayavada. Hanya dengan mendengarnya saja, bahkan seorang yang sangat maju sekalipun akan jatuh. Dalam filsafat ini, yang sebenarnya sangat menyesatkan bagi orang awam, Aku akan menafsirkan secara keliru makna sejati ajaran-ajaran Weda, dan menganjurkan seseorang untuk meninggalkan segala jenis kegiatan untuk mencapai pembebasan dari karma. Dalam filsafat mayavada itu, Aku menyatakan bahwa jivatma (sang roh) dan Paramatma (Tuhan) adalah tunggal dan memiliki sifat-sifat yang sama.
Istriku, pada jaman Kaliyuga nanti Aku akan menjelma sebagai seorang brahmana dan mengajarkan filsafat Mayavada itu. Untuk menipu para ateis (orang yang tidak percaya kepada Tuhan), aku menguraikan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa sebagai tidak berwujud dan tidak memiliki sifat. Begitu pula, dalam menafsirkan Vedanta, Aku menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki wujud, dan tidak berbentuk.”
Sewajarnya, orang lantas bertanya, mengapa Dewa Siwa berbuat demikian? Dalam Siva Purana, dijelaskan bahwa Dewa Siwa hanya menjalankan perintah. Sebagaimana kita ketahui, Buddha Gautama adalah penjelmaan Sri Wishnu yang telah mengajarkan agama Buddha dan menolak kebenaran kitab-kitab Weda. Para brahmana pada masa itu mengatasnamakan Weda untuk melakukan korban binatang atau mendirikan rumah potong hewan. Mereka juga mulai menyimpangkan ajaran Weda dengan memperkenalkan sistem kasta, yang menganggap bahwa hanya para brahmana yang boleh dan mampu mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itulah, tidak ada pilihan lain bagi Buddha Gautama, untuk menyelamatkan Weda, untuk sementara beliau menolak kebenaran Weda. Buddha Gautama mengajarkan ahimsa dan menghapuskan sistem kasta.
Buddha Gautama juga mengajarkan bahwa kehidupan di dunia ini adalah penderitaan, bahwa penyebab penderitaan itu adalah keinginan-keinginan duniawi kita, dan dengan menghapuskan seluruh keinginan, kita akan dapat mencapai nirwana, yaitu pembebasan dari kelahiran ke dunia ini. Buddha Gautama menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan keberadaan Tuhan, tentang atman (roh), kehidupan setelah pembebasan, dan sebagainya. Ketika ditanya mengenai hal-hal seperti itu, Buddha Gautama akan menjawab “Tathagata (Buddha) bebas dari segala teori.” (Ravindrasvarupa, 1991).

Para pengikut Buddha selanjutnya menyebarkan doktrin sunya atau anätma, yang berarti “roh itu tidak ada”, namun semua itu adalah penafsiran yang bersifat duniawi dari “kebisuan” Buddha Gautama terhadap topik-topik spiritual. Fakta sederhananya adalah bahwa Buddha Gautama menolak kebenaran Weda, namun Beliau tetap setia pada ajaran Weda dengan cara menolak menciptakan “teori-teori” sendiri tentang Tuhan, tentang roh, dan sebagainya yang berbeda dari konsep-konsep Weda. Karena itulah Buddha Gautama “diam seribu bahasa” mengenai hal-hal itu.
Kesadaran masyarakat pada masa itu tercemari akibat makan daging, orang telah menjadi ateis. Namun Sang Buddha yang tidak pernah berbicara sepatah katapun mengenai Tuhan, berhasil memenangkan sikap patuh dan tunduk orang-orang itu kepada Beliau. Demikianlah, Sri Wishnu telah mensiasati dan menipu orang-orang yang ateis pada masa itu untuk memuja Tuhan dalam penjelmaannya sebagai Sang Buddha. Misi Buddha Gautama sukses, sebagian besar masyarakat India mengikuti ajaran Beliau dan memeluk agama Buddha.

Namun keberhasilan itu membawa bahaya tersendiri, yaitu hilangnya rasa hormat terhadap Weda, dan berkembangnya filsafat yang menolak keberadaan Tuhan dan keberadaan roh.
Kemunculan Buddha Gautama merupakan langkah awal untuk proses pelurusan kembali ajaran-ajaran Weda yang telah disimpangkan. Langkah berikutnya adalah dengan mengutus awatara Dewa Siwa untuk melakukan pelurusan lebih lanjut. Awatara itu tidak lain adalah Sripada Sankarãcãrya, yang lahir pada tahun 788 Masehi di wilayah bernama Kaladi, di Propinsi Kerala, India Selatan. Sankara, demikian nama pemberian dari kedua orang tuanya, lahir dari pasangan brahmana bernama Sivaguru dan Aryamba.
Pasangan ini telah lama menikah, namun tidak dikaruniai anak. Lalu mereka mengadakan pemujaan kepada Tuhan agar dikaruniai anak. Dikisahkan bahwa Dewa Siwa muncul dalam mimpi mereka. Dewa Siwa memberikan pilihan, apakah mereka ingin memiliki satu anak laki-laki yang berusia pendek namun akan menjadi ahli filsafat yang sangat termashyur di dunia, ataukah memilih dikaruniai banyak anak, namun mereka akan memiliki kemampuan biasa-biasa saja. Tentu pilihan pertama menjadi lebih menarik bagi pasangan brahmana itu. Nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya adalah Sankara. Adi Sankaracharya, demikian beliau kemudian dikenal secara luas, adalah nama yang diberikan sebagai tanda kehormatan.
Kata “Adi” di depan nama Sankara dalam bahasa Sanskerta adalah sebuah gelar kehormatan yang berarti “yang mulia”.
Sedangkan kata “acharya” adalah sebutan untuk seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya. Telah menjadi sebuah tradisi Hindu bahwa kata gelar yang berada di belakang nama seseorang yang dihormati, biasanya akan ditulis menyatu dengan nama belakang itu. Demikianlah, Sankara mendapat gelar “acharya”, sehingga namanya menjadi “Adi Sankaracharya”
Ayahnya telah meninggal dunia ketika Sankara baru berusia 3 tahun, sehingga ibunya menyelenggarakan upacara upanayana (upacara yang menandai seorang anak mulai belajar Weda) baginya dengan bantuan saudara-saudaranya. Sankara mampu menguasai segala jenis cabang pengetahuan Weda dalam waktu singkat.
Banyak peristiwa atau kejadian ajaib yang dikisahkan sehubungan dengan masa muda Sankara. Sebagai seorang Brahmana muda, suatu hari ia pernah pergi meminta sedekah makanan dari rumah-rumah keluarga-keluarga yang ada di desanya. Seorang wanita yang sangat miskin, namun tidak ingin membiarkan Sankara pergi dari hadapannya dengan tangan hampa, akhirnya memberikan buah amla yang hampir membusuk, satu-satunya benda yang tersisa di rumahnya. Tersentuh oleh sifat kedermawanan dan melihat kemiskinan dari wanita itu, Sankara menyusun doa pujian kepada Dewi Laksmi, dewi kekayaan di depan pintu rumah wanita itu. Sebagai hasil dari doa tersebut, rumah wanita itu dipenuhi dengan emas.
Sejak masa mudanya Sankara telah memiliki keinginan yang kuat untuk memasuki tahap hidup sannyasa (tahap hidup pelepasan ikatan terhadap hal-hal duniawi). Dalam hidupnya Sankara tidak pernah mencita-citakan untuk menikah dan menjalani kehidupan berumah tangga, meskipun ibunya sangat mendambakan hal itu. Suatu hari, ketika sedang mandi di sebuah sungai, seekor buaya menggigit kakinya. Sankara merasa bahwa ia memang telah ditakdirkan untuk meninggal dunia pada saat itu juga, dan kemudian segera memutuskan untuk memasuki tahap hidup sebagai seorang sannyasa. Ibunya menyaksikan peristiwa itu. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Sankara guna memperoleh ijin dari ibunya untuk menjadi seorang sannyasa. Kalau tidak, maka ia akan mati ditelan buaya itu.
Akhirnya dengan terpaksa ibunya memberikan restu, dan melupakan keinginannya agar Sankara menikah. Sankara berjanji kepada ibunya, bahwa walaupun ia seorang sannyas, kelak bila ibunya meninggal dunia, dia sendiri yang akan datang memakamkan jenasahnya.
Setelah dalam pikirannya Sankara memutuskan untuk memasuki tahap kehidupan pelepasan terhadap ikatan duniawi (sannyasa), tiba-tiba buaya tersebut melepaskan gigitan kakinya. Sejak saat itulah, secara tidak resmi Sankara memasuki tahap hidup sebagai sannyasa, dan memutuskan untuk mencari seorang guru yang akan mampu membimbing dan mengarahkannya.
Dalam pengembaraannya mencari seorang guru, Sankara tiba di tepi Sungai Narmada di India Tengah. Di sana, ia tiba disebuah ashram yang dipimpin oleh Govinda Bhagavatpada, murid dari Gaudapada yang termashyur dengan kitab karangannya, Mandukya Karikas. Kitab Mandukya Karikas dianggap sebagai kitab yang mulai memperkenalkan filsafat Advaita Vedanta. Sankara diterima sebagai murid secara rohani oleh Govinda Bhagavadpada, yang menganugerahinya dengan diksa sebagai sebagai sannyasa dalam tingkatan tertinggi, yaitu tahap paramahamsa.
Menyadari kecerdasan luar biasa yang dimiliki oleh muridnya, Govinda memerintahkan Sankara untuk menguraikan secara terperinci filsafat Vedanta dengan menyusun ulasan atau tafsiran terhadap Upanisad-upanisad terpenting, Brahma Sutra, dan Bhagavad-gita. Sankara memohon ijin gurunya untuk pergi melakukan perziarahan ke berbagai tempat suci di India, sambil menyusun ulasan-ulasannya terhadap kitab-kitab Upanisad.
Sangatlah besar sumbangan pemikiran Sankaracharya terhadap filsafat Vedanta dan kebangkitan kembali budaya India secara keseluruhan.
Secara garis besar, karya-karya Sankaracharya dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu
(1) Bhasya (ulasan terhadap prasthana trayi). Sankaracharya menulis ulasan terhadap 10 Upanisad, Brahma Sutra, dan Bhagavad-gita. Ketiga jenis kitab ini disebut sebagai tiga karya terpenting dalam filsafat Vedanta (prasthana trayi). Dewasa ini orang yang mempelajari Upanisad dan Brahma Sutra dianggap belum lengkap pengetahuannya, kalau belum membaca ulasan Sankaracharya. Gaya bahasa yang digunakannya juga begitu mudah dipahami, namun memiliki makna yang teramat luas serta mendalam; (2) Prakarana Grantha (ayat-ayat yang berisi uraian pendahuluan dalam mempelajari sebuah kitab); dan (3) Stotra (kumpulan mantra sebagai doa-doa pujian).
Selama 32 tahun usia hidupnya, Sankaracarya mengabdikan seluruh hidupnya untuk merestorasi dan meluruskan kembali ajaran-ajaran Weda. Sumbangan terbesar Sankaracarya adalah keberhasilannya mengalahkan filsafat agama Buddha yang telah membuat agama Hindu tenggelam pada masa itu. Sankaracarya melakukan debat-debat terbuka dengan para pendeta Buddha , dan berhasil membuktikan kebenaran ajaran Weda. Sankaracarya melakukan perjalanan ke seluruh wilayah India, dan mendirikan ashram-ashram besar di empat penjuru India, yaitu di utara di Badrinath, di selatan di Sringeri, di Barat di Dwaraka, dan di timur di Puri.
Sesuai dengan uraian tujuan Dewa Siwa menjelma sebagai Sankaracarya dalam Padma Purana dan Siwa Purana seperti yang dipaparkan di atas, maka dalam melakukan misinya Sankaracarya membuat berbagai penyesuaian.
Misalnya, untuk mengajak kembali para penganut Buddha agar menerima ajaran Weda, Sankaracarya melakukan kompromi dengan menciptakan penafsiran yang berlawanan dengan makna sesungguhnya ayat-ayat Weda. Buddha mengajarkan bahwa tidak ada Tuhan dan tidak ada atman, sedangkan
Weda jelas-jelas mengajarkan bahwa Tuhan itu ada, memiliki sifat personal. Sama halnya kalau kita ingin bertemu dengan presiden Amerika Serikat, mau tidak mau kita harus bertemu dengan “personal” atau “individu” yang menjabat sebagai presiden saat ini, yaitu George W. Bush. Kitab-kitab Purana dan Upanisad menyatakan bahwa Tuhan memiliki aspek personal dan aspek impersonal. Aspek personal Tuhan berarti bahwa Tuhan memiliki “wujud” atau “bentuk” rohani, yang berada diluar jangakuan nalar dan imajinasi manusia.
Bahkan dalam kitab Injil, Al-Quran, dan Taurat, terdapat ayat-ayat yang membuktikan bahwa Tuhan memang memiliki wujud atau bentuk rohani, meskipun ayat-ayat itu sering hanya memberikan keterangan yang samar-samar. Sebaliknya, dalam kitab-kitab Purana dan Upanisad, jelas-jelas disebutkan bahwa aspek tertinggi Tuhan adalah aspek bhagavan (Tuhan yang bersifat personal). Karena Buddha Gautama mengajarkan bahwa Tuhan itu tidak ada, maka Sankaracarya menegaskan bahwa Tuhan itu ada, namun tidak bersifat personal, Tuhan tidak memiliki bentuk atau wujud rohani. Konsep Tuhan yang tidak berwujud inilah yang lebih dikenal sebagai Brahman. Jadi Sankaracarya mengambil jalan tengah atau kompromi antara ajaran Buddha dan ajaran ketuhanan Weda, yaitu Tuhan ada, namun tidak berwujud!
Sankaracarya juga menegaskan bahwa atman itu ada, bahwa diri manusia sesungguhnya adalah “daya hidup” yang berada di dalam badan, yang dalam bahasa sehari-hari kita kenal sebagai roh.
Hal ini berlawanan dengan pandangan Buddha yang menyatakan roh itu tidak ada atau anatma. Untuk memperkuat konsep adanya roh itu, Sankaracarya memperkenalkan ajaran “TAT TVAM ASI” yang sering diartikan dengan “Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku”. Lalu konsep itu dikaitkan dengan salah satu ajaran dasar Weda lainnya yang menyatakan “AHAM BRAHMASMI” yang berarti “AKU ADALAH BRAHMAN”. Nah, penggabungan kedua ajaran ini menghasilkan pemahaman bahwa diri manusia sesungguhnya adalah Brahman, karena Sankaracarya menyebut Tuhan juga dengan kata “Brahman”.
Jadilah berkembang filsafat yang menganggap bahwa sesungguhnya manusia ini adalah Tuhan-Tuhan yang sedang tercemari kesadarannya, hingga jatuh ke dalam kehidupan material ini. Penyebab jatuh itu adalah ilusi atau maya. Jadi filsafat itu menyatakan bahwa manusia sesungguhnya adalah Brahman-Brahman yang sedang tertutupi oleh maya. Bila kita berhasil mencapai pembebasan, kita akan kembali menjadi Brahman, atau menyatu dengan Brahman. Itulah konsep moksa yang sering kita pahami. Karena itulah filsafat ini sering disebut filsafat Mayavada atau filsafat Mayavadi. Para pengikut filsafat ini menganggap semua manusia adalah sama, Tat Tvam Asi. Celakanya, mereka menganggap persamaan itu dalam bentuk “Aham Brahmasmi” sehingga mereka sering menyebut satu sama lain dengan sebutan “daridra narayana”. Narayana adalah nama lain dari Krishna atau Wishnu, Tuhan sesungguhnya. Sedangkan “daridra” artinya “kecil” atau “miskin”. Jadi “daridra narayana” artinya “narayana kecil” atau Tuhan yang sedang hilaf, kesadarannya tertutupi oleh maya, sehingga jatuh ke dunia ini. Nanti kalau sudah mencapai moksa, gelar “daridra” itu akan hilang, hingga tinggal gelar Narayana.
Tentu saja, filsafat itu patut dikritisi, karena menggelikan dan berisi unsur penghinaan. Mengapa? Menggelikan, karena menurut mereka Tuhan bisa lupa, tertutupi kesadarannya oleh maya (tenaga yang menghayalkan) sehingga jatuh ke dunia ini. Padahal maya adalah ciptaan Tuhan sendiri. Jadi, Tuhan macam apa yang bisa terjebak oleh tenaga ciptaan-Nya sendiri?? Lucu bukan? Masak Tuhan bisa kalah oleh maya.
Penghinaan pula, karena menganggap Tuhan sejajar dengan atman. Weda jelas-jelas menyebutkan bahwa atman tidak pernah menjadi Brahman. Jadi, perlu kita kaji ulang pengertian moksa sebagai “penyatuan Atman dengan Brahman.”
Semua itu adalah filsafat yang diajarkan oleh Adi Sankaracarya, dengan mengingat bahwa latar belakang masyarakat yang harus diajarinya adalah orang-orang Buddha yang memang tidak mengenal Tuhan. Sankaracarya mengemban misi tahap kedua untuk meluruskan ajaran Weda yang disimpangkan. Tahap berikutnya, menjelmalah Ramanujacarya, Madhvacarya, dan Caitanya Mahaprabhu yang akan kami bahas pada newsleter ini edisi mendatang.
Namun Sankaracarya sendiri adalah pemuja Narayana atau Krishna, yang terbukti dalam syairnya yang sangat terkenal berjudul Bhaja Govindam yang ditujukan untuk para pengikutnya sendiri.

bhaja govindam bhaja govindam
govindam bhaja mudha mate
sampraapte sannihite kaale
na hi na hi rakshati dukrinya-karane


SUMBER : vedasastra.com

dikutip oleh Iant Sulistiyanto

Selasa, 13 September 2011

MENJAGA KESUCIAN PURA



Kekawin Arjuna Wiwaha X.1/98 Mrdhu Komala gubahan Mpu Kanwa:

ONG SEMBAHNING ANATHA TINGHALANA, DE TRI LOKA SARANA. WAHYA DHYATMIKA SEMBAHINGULUNI JONG TA, TAN HANA WANEH. SANG LWIR AGNI SAKENG TAHEN, KADI MINYAK SAKENG DADI KITA. SANG SAKSAT METU, YAN HANA WWANG AMUTER TUTUR PINIHAYU

Terjemahannya

Senin, 12 September 2011

SUKA / DUKA ITU SEMENTARA



BHAGAVADGITA

Sloka 2.14
Wahai Putera Kunti, suka dan duka muncul untuk sementara dan hilang sesudah beberapa waktu, bagaikan mulai dan berakhirnya musim dingin dan musim panas. Hal-hal itu timbul dari penglihatan indria, dan seseorang harus belajar cara mentolerir hal-hal itu tanpa goyah, wahai putera keluarga Bharata.


Senin, 06 Juni 2011

YANG BERHATI SUCI DAN YANG BERHATI IBLIS

BAB XV

Yang Berhati Suci dan Yang Berhati Iblis

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:

1. Tidak memiliki rasa takut, kemurnian hati, ketegaran dalam ilmu dan yoga, memberikan dana, kendali diri, pengorbanan, mempelajari buku-buku suci, tindakan disiplin spiritual (meditasi, puasa, pantangan dan lain sebagainya), menjunjung tinggi kebenaran;

2. Tidak mencelakakan yang lainnya, kejujuran, jauh dari rasa amarah, penyerahan total hasil dari tindakan-tindakannya, kedamaian, tidak mencari-cari kesalahan, rasa sayang terhadap semua mahluk hidup, kesederhanaan, jauh dari rasa ketidaksetiaan;

3. Keperkasaan (keberanian), pemaaf, dapat menahan penderitaan, kesucian, jauh dari rasa iri, bebas dari rasa sombong yang berlebih-lebihan -- ini semua, oh Arjuna, adalah ciri-ciri seseorang yang lahir dalam keturunan yang suci.

Di dunia ini ada dua jenis manusia, yaitu yang suci dan yang bersifat iblis. Manusia-manusia yang lahir dengan karakter-karakter yang suci secara mendasar sudah spiritual sifatnya. Mereka-mereka ini adalah jiwa-jiwa yang hidup dalam raga tetapi tak terpengaruh oleh Sang Maya. Mereka ingat dan sadar akan kesucian yang menunjang mereka untuk sampai ke Rumah Tujuan akhir nanti. Segala perbuatan dan tindak-tanduk mereka memancarkan kesucian dan kemurnian bagi sesamanya dan diri mereka sendiri. Dalam tindak-tanduk mereka di dunia ini mereka tidak menunjukkan nafsu atau keinginan-keinginan duniawi baik dalam cara berpikir, aspirasi maupun perbuatan mereka. Mereka ini selalu terserap dalam yoga dan jauh dari segala bhoga (kenikmatan-kenikmatan duniawi). Semenjak lahir, dalam diri mereka telah nampak tendensi-tendensi suci. Bakat-bakat kesucian ini mereka bawa dari karma yang terdahulu, dan dipraktekkan dengan lebih aktif lagi di kelahiran mereka yang berikutnya secara lebih intensif.

Minggu, 03 Oktober 2010

Shankaracharya Penjelmaan Dewa Siwa, Penerus Misi Buddha Gautama

Umat Hindu umumnya telah akrab dengan konsep penyatuan Atman dengan Brahman (Moksa). Juga terhadap konsep “Tat Tvam Asi” Namun, tidak banyak yang tahu bahwa konsep itu diajarkan oleh Adi Sankaracharya, yang diyakini sebagai penjelmaan Dewa Siwa. Shankara, begitu beliau lebih dikenal secara luas, mengemban misi besar untuk mengembalikan ajaran Weda yang seolah tenggelam karena berkembangnya agama Buddha yang diajarkan oleh Buddha Gautama. Benarkah Atman dapat menyatu dan lenyap ke dalam Brahman?

Apa artinya “moksa”? Kalau pertanyaan itu, diajukan pada orang Hindu, sebagian pasti akan menjawab : “Moksa adalah bersatunya Atman dengan Brahman. Moksa adalah keadaan di mana diri kita kembali bersatu dengan Tuhan“ Bersatu dengan Tuhan? Apanya yang bersatu, diri kita? Artinya, suatu saat “diri” kita akan lenyap dan “merger” dengan Tuhan? Jadi, roh akan berhenti mengalami punarbhawa (reinkarnasi) setelah ia “menjadi” Tuhan?
Sepertinya, tidak banyak di antara kita yang pernah mempertanyakan lagi kebenaran konsep moksa yang satu ini. Kita seolah sudah merasa nyaman dan pede memberikan jawaban yang telah baku dan memang populer itu. Apalagi, logika pemahaman moksa dalam artian penyatuan antara atman dan Brahman itu didukung oleh contoh-contoh rasional yang konkret. Atman diibaratkan sebagai air sungai yang mengalir ke laut, sedangkan Brahman diumpamakan sebagai lautan. Ketika air sungai telah berhasil mencapai lautan, maka terjadilah penyatuan keduanya.

Kita tidak akan bisa lagi membedakan, mana yang air sungai dan mana yang air laut. Begitulah, saat mencapai moksa, sang atman tidak akan dapat dibedakan lagi dengan brahman, …..seperti halnya air sungai yang “merger” dengan air laut itu. Roh akan “lenyap” dan “menyatu” dengan Tuhan.

Sekilas, perumpaan air sungai dan air laut itu memang memadai untuk menggambarkan apa yang dialami oleh roh setelah ia moksa. Tetapi, contoh itu hanya tepat bagi seorang awam, yang tidak memahami seluk beluk atom, molekul dan persenyawaan kimia!

Memang benar, secara kasat mata, air sungai dan air laut itu “kehilangan identitasnya” masing-masing setelah mereka bersatu. Namun, orang yang memahami konsep persenyawaan antara berbagai molekul zat akan melihat kenyataan lain. Ia akan tahu, bahwa molekul air sungai terdiri dari atom-atom Hidrogen dan atom-atom Oksigen. Rumus molekul air adalah H2O. Artinya, satu atom oksigen mengikat dua atom hidrogen untuk membentuk satu molekul air. Begitupun air laut memiliki unsur-unsur penyusun yang sama.
Ketika air sungai bertemu air laut, terjadilah reaksi antara atom-atom hidrogen dan oksigen air sungai, dengan atom-atom hidrogen dan oksigen air laut. Mungkin dua atom hidrogen air sungai akan berikatan dengan satu atom oksigen air laut dan membentuk molekul baru. Bisa pula, satu atom oksigen air sungai mengikat dua atom hidrogen air laut. Dan seterusnya, dan seterusnya. Tetapi, jangan lupa bahwa masing-masing atom itu tidak pernah kehilangan “identitasnya”. Kalau kita tandai masing-masing atom itu, akan tampak atom hidrogen air sungai tidak berubah menjadi atom hidrogen air laut. Begitupun sebaliknya. Mereka hanya berikatan satu sama lain, tapi tidak ada pihak yang kehilangan “jati dirinya.” Artinya, jati diri atom-atom air sungai tetap ada, tidak lenyap, meskipun ia “menyatu” dengan atom-atom air laut.
Begitu pula dengan Atman dan Brahman. Kalau memang benar bahwa Atman dapat “menyatu dan lenyap” ke dalam Brahman, hal itu akan bertentangan dengan sifat-sifat sang roh (atman) yang diuraikan dalam kitab-kitab Weda.
Weda menjelaskan bahwa sang roh adalah energi atau daya hidup yang kekal. Penjelasan seperti itu sangat sesuai dengan Hukum Kekekalan Energi dalam ilmu fisika. Bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, energi hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Dengan demikian, roh tidak bisa musnah, tidak bisa lenyap atau kehilangan sifat individualitasnya. Ia hanya berpindah dari satu badan jasmani ke badan jasmani lainnya, sesuai dengan karmanya.
Dalam Kitab Bhagavad-gita 2.23 dan 2.24 Sri Krishna memperkuat penjelasan di atas, dengan menyatakan sebagai berikut:

nainaà chindanti çasträëi
nainaà dahati pävakaù
na cainaà kledayanty äpo
na çoñayati märutaù

acchedyo ’yam adähyo ’yam
akledyo ’çoñya eva ca
nityaù sarva-gataù sthäëur
acalo ’yaà sanätanaù

“Sang roh tidak pernah dapat dipotong menjadi bagian-bagian oleh senjata manapun, terbakar oleh api, dibasahi oleh air, atau dikeringkan oleh angin. Roh yang individual ini tidak dapat dipatahkan dan tidak dapat dilarutkan, dibakar ataupun dikeringkan. Ia hidup untuk selamanya, berada di mana-mana, tidak dapat diubah, tidak dapat dipindahkan dan tetap ada untuk selamanya.”

Jadi, jelaslah bahwa konsep Atman dapat menyatu dengan Brahman, lalu lenyap seperti yang sering dijelaskan itu sebenarnya kurang tepat. Contoh berikut mungkin akan lebih memperjelas kekeliruan konsep kita tentang moksa. Ada seekor burung yang bulu-bulunya berwarna hijau, lalu hinggap pada sebatang pohon yang daunnya rindang berwarna hijau pula. Sudah tentu, burung itu akan seolah-olah lenyap dan tampak “menyatu” dengan pohon itu. Orang yang kurang cerdas akan mengatakan bahwa burung itu telah mencapai “penyatuan” dan kehilangan jati dirinya. Padahal, bagaimana faktanya? Ya, jelas sekali. Burung berbulu hijau itu tidak pernah berubah menjadi pohon, ia tetap ada di ranting pohon itu, tidak kehilangan individualitasnya. Demikian halnya sang pohon. Keduanya tampak seolah-olah menyatu, hanya karena persamaan sifat, bukan karena yang satu menjadi yang lain.
Begitupula dengan sang roh (Atman), ia akan tetap menjadi percikan-percikan Tuhan yang bersifat kekal, dan tidak akan pernah dapat berubah menjadi Tuhan (Brahman).
Sebagaimana dinyatakan oleh Sri Krishna :” mamaivamso jiva-loke jiva-bhutah sanatanah” Para makhluk hidup di dunia yang terikat ini adalah bagian-bagian percikan yang kekal dari Diriku (Bhagavad-gita 15.7).
Lagi pula, air sungai masih akan ada kemungkinan untuk mengalami penguapan. Cahaya matahari akan membuat air laut menguap menjadi awan, lalu akan jatuh lagi ke daratan. Jadi, menyatunya Atman dengan Brahman, kalau memang hal itu terjadi, tidak akan bersifat kekal. Bukankah kita sendiri mengalami bahwa sifat roh adalah selalu giat? Bagaimana mungkin roh yang bersifat aktif dapat tinggal diam dalam kekosongan tanpa ada kegiatan? Dengan sifat aktif seperti itu, suatu saat roh akan jatuh lagi ke dalam lingkaran kelahiran dan kematian.
Bila kita lacak kembali asal usul ajaran penyatuan Atman dengan Brahman, kita akan temukan nama Adi Sankaracarya, salah seorang guru besar dan filosof yang sangat termasyur di India, dikenal sebagai pencipta filsafat Mayavada itu.

Lalu, mengapa Sankaracharya berbuat demikian? Mengapa beliau mengajarkan konsep yang berbeda dengan ajaran Weda yang sesungguhnya? Jawabannya, Sankaracharya memang mengemban tugas melanjutkan misi yang telah dirintis oleh Buddha Gautama.
Menurut Satsvarupa das Gosvami (1996) dalam Padma Purana terdapat uraian mengenai identitas Sankaracarya yang sebenarnya. Dia adalah penjelmaan Dewa Siwa yang mengemban misi khusus :
“Istriku Parvati, dengarlah penjelasan bagaimana aku menyebarkan kebodohan melalui filsafat Mayavada. Hanya dengan mendengarnya saja, bahkan seorang yang sangat maju sekalipun akan jatuh. Dalam filsafat ini, yang sebenarnya sangat menyesatkan bagi orang awam, Aku akan menafsirkan secara keliru makna sejati ajaran-ajaran Weda, dan menganjurkan seseorang untuk meninggalkan segala jenis kegiatan untuk mencapai pembebasan dari karma. Dalam filsafat mayavada itu, Aku menyatakan bahwa jivatma (sang roh) dan Paramatma (Tuhan) adalah tunggal dan memiliki sifat-sifat yang sama.
Istriku, pada jaman Kaliyuga nanti Aku akan menjelma sebagai seorang brahmana dan mengajarkan filsafat Mayavada itu. Untuk menipu para ateis (orang yang tidak percaya kepada Tuhan), aku menguraikan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa sebagai tidak berwujud dan tidak memiliki sifat. Begitu pula, dalam menafsirkan Vedanta, Aku menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki wujud, dan tidak berbentuk.”
Sewajarnya, orang lantas bertanya, mengapa Dewa Siwa berbuat demikian? Dalam Siva Purana, dijelaskan bahwa Dewa Siwa hanya menjalankan perintah. Sebagaimana kita ketahui, Buddha Gautama adalah penjelmaan Sri Wishnu yang telah mengajarkan agama Buddha dan menolak kebenaran kitab-kitab Weda. Para brahmana pada masa itu mengatasnamakan Weda untuk melakukan korban binatang atau mendirikan rumah potong hewan. Mereka juga mulai menyimpangkan ajaran Weda dengan memperkenalkan sistem kasta, yang menganggap bahwa hanya para brahmana yang boleh dan mampu mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itulah, tidak ada pilihan lain bagi Buddha Gautama, untuk menyelamatkan Weda, untuk sementara beliau menolak kebenaran Weda. Buddha Gautama mengajarkan ahimsa dan menghapuskan sistem kasta.
Buddha Gautama juga mengajarkan bahwa kehidupan di dunia ini adalah penderitaan, bahwa penyebab penderitaan itu adalah keinginan-keinginan duniawi kita, dan dengan menghapuskan seluruh keinginan, kita akan dapat mencapai nirwana, yaitu pembebasan dari kelahiran ke dunia ini. Buddha Gautama menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan keberadaan Tuhan, tentang atman (roh), kehidupan setelah pembebasan, dan sebagainya. Ketika ditanya mengenai hal-hal seperti itu, Buddha Gautama akan menjawab “Tathagata (Buddha) bebas dari segala teori.” (Ravindrasvarupa, 1991).

Para pengikut Buddha selanjutnya menyebarkan doktrin sunya atau anätma, yang berarti “roh itu tidak ada”, namun semua itu adalah penafsiran yang bersifat duniawi dari “kebisuan” Buddha Gautama terhadap topik-topik spiritual. Fakta sederhananya adalah bahwa Buddha Gautama menolak kebenaran Weda, namun Beliau tetap setia pada ajaran Weda dengan cara menolak menciptakan “teori-teori” sendiri tentang Tuhan, tentang roh, dan sebagainya yang berbeda dari konsep-konsep Weda. Karena itulah Buddha Gautama “diam seribu bahasa” mengenai hal-hal itu.
Kesadaran masyarakat pada masa itu tercemari akibat makan daging, orang telah menjadi ateis. Namun Sang Buddha yang tidak pernah berbicara sepatah katapun mengenai Tuhan, berhasil memenangkan sikap patuh dan tunduk orang-orang itu kepada Beliau. Demikianlah, Sri Wishnu telah mensiasati dan menipu orang-orang yang ateis pada masa itu untuk memuja Tuhan dalam penjelmaannya sebagai Sang Buddha. Misi Buddha Gautama sukses, sebagian besar masyarakat India mengikuti ajaran Beliau dan memeluk agama Buddha.

Namun keberhasilan itu membawa bahaya tersendiri, yaitu hilangnya rasa hormat terhadap Weda, dan berkembangnya filsafat yang menolak keberadaan Tuhan dan keberadaan roh.
Kemunculan Buddha Gautama merupakan langkah awal untuk proses pelurusan kembali ajaran-ajaran Weda yang telah disimpangkan. Langkah berikutnya adalah dengan mengutus awatara Dewa Siwa untuk melakukan pelurusan lebih lanjut. Awatara itu tidak lain adalah Sripada Sankarãcãrya, yang lahir pada tahun 788 Masehi di wilayah bernama Kaladi, di Propinsi Kerala, India Selatan. Sankara, demikian nama pemberian dari kedua orang tuanya, lahir dari pasangan brahmana bernama Sivaguru dan Aryamba.
Pasangan ini telah lama menikah, namun tidak dikaruniai anak. Lalu mereka mengadakan pemujaan kepada Tuhan agar dikaruniai anak. Dikisahkan bahwa Dewa Siwa muncul dalam mimpi mereka. Dewa Siwa memberikan pilihan, apakah mereka ingin memiliki satu anak laki-laki yang berusia pendek namun akan menjadi ahli filsafat yang sangat termashyur di dunia, ataukah memilih dikaruniai banyak anak, namun mereka akan memiliki kemampuan biasa-biasa saja. Tentu pilihan pertama menjadi lebih menarik bagi pasangan brahmana itu. Nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya adalah Sankara. Adi Sankaracharya, demikian beliau kemudian dikenal secara luas, adalah nama yang diberikan sebagai tanda kehormatan.
Kata “Adi” di depan nama Sankara dalam bahasa Sanskerta adalah sebuah gelar kehormatan yang berarti “yang mulia”.
Sedangkan kata “acharya” adalah sebutan untuk seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya. Telah menjadi sebuah tradisi Hindu bahwa kata gelar yang berada di belakang nama seseorang yang dihormati, biasanya akan ditulis menyatu dengan nama belakang itu. Demikianlah, Sankara mendapat gelar “acharya”, sehingga namanya menjadi “Adi Sankaracharya”
Ayahnya telah meninggal dunia ketika Sankara baru berusia 3 tahun, sehingga ibunya menyelenggarakan upacara upanayana (upacara yang menandai seorang anak mulai belajar Weda) baginya dengan bantuan saudara-saudaranya. Sankara mampu menguasai segala jenis cabang pengetahuan Weda dalam waktu singkat.
Banyak peristiwa atau kejadian ajaib yang dikisahkan sehubungan dengan masa muda Sankara. Sebagai seorang Brahmana muda, suatu hari ia pernah pergi meminta sedekah makanan dari rumah-rumah keluarga-keluarga yang ada di desanya. Seorang wanita yang sangat miskin, namun tidak ingin membiarkan Sankara pergi dari hadapannya dengan tangan hampa, akhirnya memberikan buah amla yang hampir membusuk, satu-satunya benda yang tersisa di rumahnya. Tersentuh oleh sifat kedermawanan dan melihat kemiskinan dari wanita itu, Sankara menyusun doa pujian kepada Dewi Laksmi, dewi kekayaan di depan pintu rumah wanita itu. Sebagai hasil dari doa tersebut, rumah wanita itu dipenuhi dengan emas.
Sejak masa mudanya Sankara telah memiliki keinginan yang kuat untuk memasuki tahap hidup sannyasa (tahap hidup pelepasan ikatan terhadap hal-hal duniawi). Dalam hidupnya Sankara tidak pernah mencita-citakan untuk menikah dan menjalani kehidupan berumah tangga, meskipun ibunya sangat mendambakan hal itu. Suatu hari, ketika sedang mandi di sebuah sungai, seekor buaya menggigit kakinya. Sankara merasa bahwa ia memang telah ditakdirkan untuk meninggal dunia pada saat itu juga, dan kemudian segera memutuskan untuk memasuki tahap hidup sebagai seorang sannyasa. Ibunya menyaksikan peristiwa itu. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Sankara guna memperoleh ijin dari ibunya untuk menjadi seorang sannyasa. Kalau tidak, maka ia akan mati ditelan buaya itu.
Akhirnya dengan terpaksa ibunya memberikan restu, dan melupakan keinginannya agar Sankara menikah. Sankara berjanji kepada ibunya, bahwa walaupun ia seorang sannyas, kelak bila ibunya meninggal dunia, dia sendiri yang akan datang memakamkan jenasahnya.
Setelah dalam pikirannya Sankara memutuskan untuk memasuki tahap kehidupan pelepasan terhadap ikatan duniawi (sannyasa), tiba-tiba buaya tersebut melepaskan gigitan kakinya. Sejak saat itulah, secara tidak resmi Sankara memasuki tahap hidup sebagai sannyasa, dan memutuskan untuk mencari seorang guru yang akan mampu membimbing dan mengarahkannya.
Dalam pengembaraannya mencari seorang guru, Sankara tiba di tepi Sungai Narmada di India Tengah. Di sana, ia tiba disebuah ashram yang dipimpin oleh Govinda Bhagavatpada, murid dari Gaudapada yang termashyur dengan kitab karangannya, Mandukya Karikas. Kitab Mandukya Karikas dianggap sebagai kitab yang mulai memperkenalkan filsafat Advaita Vedanta. Sankara diterima sebagai murid secara rohani oleh Govinda Bhagavadpada, yang menganugerahinya dengan diksa sebagai sebagai sannyasa dalam tingkatan tertinggi, yaitu tahap paramahamsa.
Menyadari kecerdasan luar biasa yang dimiliki oleh muridnya, Govinda memerintahkan Sankara untuk menguraikan secara terperinci filsafat Vedanta dengan menyusun ulasan atau tafsiran terhadap Upanisad-upanisad terpenting, Brahma Sutra, dan Bhagavad-gita. Sankara memohon ijin gurunya untuk pergi melakukan perziarahan ke berbagai tempat suci di India, sambil menyusun ulasan-ulasannya terhadap kitab-kitab Upanisad.
Sangatlah besar sumbangan pemikiran Sankaracharya terhadap filsafat Vedanta dan kebangkitan kembali budaya India secara keseluruhan.
Secara garis besar, karya-karya Sankaracharya dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu
(1) Bhasya (ulasan terhadap prasthana trayi). Sankaracharya menulis ulasan terhadap 10 Upanisad, Brahma Sutra, dan Bhagavad-gita. Ketiga jenis kitab ini disebut sebagai tiga karya terpenting dalam filsafat Vedanta (prasthana trayi). Dewasa ini orang yang mempelajari Upanisad dan Brahma Sutra dianggap belum lengkap pengetahuannya, kalau belum membaca ulasan Sankaracharya. Gaya bahasa yang digunakannya juga begitu mudah dipahami, namun memiliki makna yang teramat luas serta mendalam; (2) Prakarana Grantha (ayat-ayat yang berisi uraian pendahuluan dalam mempelajari sebuah kitab); dan (3) Stotra (kumpulan mantra sebagai doa-doa pujian).
Selama 32 tahun usia hidupnya, Sankaracarya mengabdikan seluruh hidupnya untuk merestorasi dan meluruskan kembali ajaran-ajaran Weda. Sumbangan terbesar Sankaracarya adalah keberhasilannya mengalahkan filsafat agama Buddha yang telah membuat agama Hindu tenggelam pada masa itu. Sankaracarya melakukan debat-debat terbuka dengan para pendeta Buddha , dan berhasil membuktikan kebenaran ajaran Weda. Sankaracarya melakukan perjalanan ke seluruh wilayah India, dan mendirikan ashram-ashram besar di empat penjuru India, yaitu di utara di Badrinath, di selatan di Sringeri, di Barat di Dwaraka, dan di timur di Puri.
Sesuai dengan uraian tujuan Dewa Siwa menjelma sebagai Sankaracarya dalam Padma Purana dan Siwa Purana seperti yang dipaparkan di atas, maka dalam melakukan misinya Sankaracarya membuat berbagai penyesuaian.
Misalnya, untuk mengajak kembali para penganut Buddha agar menerima ajaran Weda, Sankaracarya melakukan kompromi dengan menciptakan penafsiran yang berlawanan dengan makna sesungguhnya ayat-ayat Weda. Buddha mengajarkan bahwa tidak ada Tuhan dan tidak ada atman, sedangkan
Weda jelas-jelas mengajarkan bahwa Tuhan itu ada, memiliki sifat personal. Sama halnya kalau kita ingin bertemu dengan presiden Amerika Serikat, mau tidak mau kita harus bertemu dengan “personal” atau “individu” yang menjabat sebagai presiden saat ini, yaitu George W. Bush. Kitab-kitab Purana dan Upanisad menyatakan bahwa Tuhan memiliki aspek personal dan aspek impersonal. Aspek personal Tuhan berarti bahwa Tuhan memiliki “wujud” atau “bentuk” rohani, yang berada diluar jangakuan nalar dan imajinasi manusia.
Bahkan dalam kitab Injil, Al-Quran, dan Taurat, terdapat ayat-ayat yang membuktikan bahwa Tuhan memang memiliki wujud atau bentuk rohani, meskipun ayat-ayat itu sering hanya memberikan keterangan yang samar-samar. Sebaliknya, dalam kitab-kitab Purana dan Upanisad, jelas-jelas disebutkan bahwa aspek tertinggi Tuhan adalah aspek bhagavan (Tuhan yang bersifat personal). Karena Buddha Gautama mengajarkan bahwa Tuhan itu tidak ada, maka Sankaracarya menegaskan bahwa Tuhan itu ada, namun tidak bersifat personal, Tuhan tidak memiliki bentuk atau wujud rohani. Konsep Tuhan yang tidak berwujud inilah yang lebih dikenal sebagai Brahman. Jadi Sankaracarya mengambil jalan tengah atau kompromi antara ajaran Buddha dan ajaran ketuhanan Weda, yaitu Tuhan ada, namun tidak berwujud!
Sankaracarya juga menegaskan bahwa atman itu ada, bahwa diri manusia sesungguhnya adalah “daya hidup” yang berada di dalam badan, yang dalam bahasa sehari-hari kita kenal sebagai roh.
Hal ini berlawanan dengan pandangan Buddha yang menyatakan roh itu tidak ada atau anatma. Untuk memperkuat konsep adanya roh itu, Sankaracarya memperkenalkan ajaran “TAT TVAM ASI” yang sering diartikan dengan “Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku”. Lalu konsep itu dikaitkan dengan salah satu ajaran dasar Weda lainnya yang menyatakan “AHAM BRAHMASMI” yang berarti “AKU ADALAH BRAHMAN”. Nah, penggabungan kedua ajaran ini menghasilkan pemahaman bahwa diri manusia sesungguhnya adalah Brahman, karena Sankaracarya menyebut Tuhan juga dengan kata “Brahman”.
Jadilah berkembang filsafat yang menganggap bahwa sesungguhnya manusia ini adalah Tuhan-Tuhan yang sedang tercemari kesadarannya, hingga jatuh ke dalam kehidupan material ini. Penyebab jatuh itu adalah ilusi atau maya. Jadi filsafat itu menyatakan bahwa manusia sesungguhnya adalah Brahman-Brahman yang sedang tertutupi oleh maya. Bila kita berhasil mencapai pembebasan, kita akan kembali menjadi Brahman, atau menyatu dengan Brahman. Itulah konsep moksa yang sering kita pahami. Karena itulah filsafat ini sering disebut filsafat Mayavada atau filsafat Mayavadi. Para pengikut filsafat ini menganggap semua manusia adalah sama, Tat Tvam Asi. Celakanya, mereka menganggap persamaan itu dalam bentuk “Aham Brahmasmi” sehingga mereka sering menyebut satu sama lain dengan sebutan “daridra narayana”. Narayana adalah nama lain dari Krishna atau Wishnu, Tuhan sesungguhnya. Sedangkan “daridra” artinya “kecil” atau “miskin”. Jadi “daridra narayana” artinya “narayana kecil” atau Tuhan yang sedang hilaf, kesadarannya tertutupi oleh maya, sehingga jatuh ke dunia ini. Nanti kalau sudah mencapai moksa, gelar “daridra” itu akan hilang, hingga tinggal gelar Narayana.
Tentu saja, filsafat itu patut dikritisi, karena menggelikan dan berisi unsur penghinaan. Mengapa? Menggelikan, karena menurut mereka Tuhan bisa lupa, tertutupi kesadarannya oleh maya (tenaga yang menghayalkan) sehingga jatuh ke dunia ini. Padahal maya adalah ciptaan Tuhan sendiri. Jadi, Tuhan macam apa yang bisa terjebak oleh tenaga ciptaan-Nya sendiri?? Lucu bukan? Masak Tuhan bisa kalah oleh maya.
Penghinaan pula, karena menganggap Tuhan sejajar dengan atman. Weda jelas-jelas menyebutkan bahwa atman tidak pernah menjadi Brahman. Jadi, perlu kita kaji ulang pengertian moksa sebagai “penyatuan Atman dengan Brahman.”
Semua itu adalah filsafat yang diajarkan oleh Adi Sankaracarya, dengan mengingat bahwa latar belakang masyarakat yang harus diajarinya adalah orang-orang Buddha yang memang tidak mengenal Tuhan. Sankaracarya mengemban misi tahap kedua untuk meluruskan ajaran Weda yang disimpangkan. Tahap berikutnya, menjelmalah Ramanujacarya, Madhvacarya, dan Caitanya Mahaprabhu yang akan kami bahas pada newsleter ini edisi mendatang.
Namun Sankaracarya sendiri adalah pemuja Narayana atau Krishna, yang terbukti dalam syairnya yang sangat terkenal berjudul Bhaja Govindam yang ditujukan untuk para pengikutnya sendiri.

bhaja govindam bhaja govindam
govindam bhaja mudha mate
sampraapte sannihite kaale
na hi na hi rakshati dukrinya-karane


SUMBER : vedasastra.com

dikutip oleh Iant Sulistiyanto

TENTANG NAMA HINDU

Jangan heran jika teman-teman sedharma sekalian menemukan penganut Veda tidak mau menyebut diri sebagai Hindu. Kita memiliki masalah sebenarnya dengan nama Hindu, ada yang sebenarnya tidak mau disebut Hindu tapi karena nama agama Hindu sudah terlanjur diberikan kepada kita, kadang mereka seolah terpaksa menyebut diri sebagai Hindu. Biasanya, istilah yang digunakan adalah:

1. Penganut Veda

2. Acarya

3. Sanatana Dharma

4. Bahkan ada yang mengatakan ISKCON

Nah, kenapa banyak orang tidak mau disebut sebagai Hindu? Berikut adalah tulisan dari Stephen Knapp, mantan Kristen Amerika yang telah memeluk agama Veda yang wawasannya jauh lebih luas daripada kita yang murni kelahiran Hindu.

TENTANG NAMA “HINDU”

Oleh Stephen Knapp

Saya merasa perlu untuk mengklarifikasi mengenai penggunaan kata “Hindu” dan “Hinduisme”. Faktanya memang benar “Hinduisme” didasari pada pengetahuan Veda, yang mana berhubungan kepada identitas spiritual kita. Banyak org menerimanya berarti sama dengan Sanatana-dharma, yang sebenarnya adalah istilah Sanskerta yang lebih akurat untuk jalan Veda. Identitas tersebut melampaui segala nama sementara sebagai Kristen, Islam, Buddha, atau bahkan Hindu. Bagaimanapun, Tuhan tidak pernah menggambarkan diri-Nya sebagai milik kategori tersebut, mengatakan bahwa Dia adalah hanya Tuhan Kristen, Tuhan Muslim, atau Tuhan Hindu. Oleh karena itu beberapa guru besar spiritualis dari India telah menjauhi pengidentifikasian diri sebagai orang Hindu saja. Jalan Veda itu abadi, dan karena itu melampaui segala sebutan sementara itu. Jadi saya menyebut nama “Hindu” penunjukan sementara?

Kita harus ingat bahwa istilah “Hindu” itu bahkan bukan istilah Sanskerta. Banyak ahli mengatakan bahwa itu tidak ditemukan di dalam Sastra Veda manapun. Jadi bagaimana bisa nama seperti itu mewakili jalan atau tradisi Veda? Dan tanpa sastra Veda, tidak ada dasar untuk “Hinduisme.”

Banyak ahli merasa bahwa nama “Hindu” telah dikembang pihak lain, para penyerbu yang tidak bisa menyebut nama Sungai Sindhu dengan baik. Menurut Sir Monier Williams, leksikografer Sanskerta, anda tidak dapat menemukan akar pribumi untuk kata-kata Hindu atau India. Tidak juga kata-kata tersebut ditemukan dalam setiap teks-teks Buddha atau Jain, atau salah satu dari 23 bahasa resmi India.

Beberapa sumber melaporkan bahwa Alexander Agung yang pertama kali merubah nama Sungai Sindhu menjadi Indu, menghilangkan huruf “S”, guna memudahkan pengucapan bagi orang Yunani. Inilah kemudian dikenal sebagai Indus. Ini ketika Alexander menyerbu India sekitar tahun 325 BCE. Kekuatan Macedoniannya sesudah itu disebut daratan timur Indus sebagai India, sebuah nama yang digunakan terutama selama rezim Inggris. Sebelum ini, nama Veda untuk daerah itu adalah Bharath Varsha, di mana banyak orang masih lebih suka menyebutnya dengan nama itu.

Kemudian, ketika penyerbu Muslim tiba dari tempat-tempat seperti Afghanistan dan Persia, mereka menyebut Sungai Sindhu sebagai Sungai Hindu. Setelah itu, nama “Hindu” digunakan untuk menggambarkan saluran penduduk dari tanah di propinsi barat laut dari India di mana terletak Sungai Sindhu, dan daerah itu sendiri disebut “Hindustan.” Karena suara Sansekerta “S” berubah menjadi “H” dalam bahasa Persia, Muslim menyebut “Sindhu” sebagai “Hindu,” meskipun pada saat orang-orang dari daerah itu tidak menggunakan nama “Hindu” sendiri. Kata ini digunakan oleh Muslim asing untuk mengidentifikasi orang-orang dan agama di mana orang-orang tersebut tinggal di daerah itu. Setelah itu, bahkan orang Indian sesuai dengan standar tersebut sebagaimana ditetapkan oleh mereka yang berkuasa dan menggunakan nama-nama Hindu dan Hindustan. Sebaliknya, kata itu tidak memiliki makna kecuali orang-orang memberinya arti atau sekarang digunakan di luar kegunaan.

Sebuah pemandangan lain tentang nama “Hindu” menunjukkan kebingungan alami untuk mengerti esensi sebenarnya dari jalan spiritual India. Seperti yang ditulis oleh RN Suryanarayan dalam bukunya Agama Universal (p.1-2, yang diterbitkan di Mysore pada tahun 1952), “Situasi politik di negara kita sejak berabad lalu, sebut saja 20-25 abad, telah membuatnya sangat sulit untuk memahami sifat bangsa ini dan agamanya. Sarjana Barat, dan sejarawan, juga, telah gagal untuk melacak nama sejati ini Tanah Brahman, benua yang luas seperti negara, dan oleh karena itu, mereka telah puas diri dengan menyebutnya dengan istilah yang berarti ‘Hindu’. Kata ini, yang merupakan inovasi asing, tidak terbuat dari penggunaan oleh penulis Sansekerta kami dan Acharya yang dihormati dalam karya-karya mereka. Tampaknya kekuasaan politik bertanggung jawab untuk terus-menerus menekankan penggunaan kata Hindu. Kata Hindu ditemukan, tentu saja, dalam sastra Persia. Hindu-e-Falak berarti ‘kegelapan dari langit’ dan ‘Saturnus’. Dalam bahasa Arab Hind bukan Hindu berarti bangsa. Hal ini memalukan dan menggelikan telah membaca selama ini dalam sejarah bahwa nama Hindu diberikan oleh orang-orang Persia kepada penduduk negara kami ketika mereka mendarat di tanah suci Sindhu.”

Lokasi di mana kata “Hindu” terjadi untuk apa beberapa orang merasa pertama kalinya dalam Avesta dari Iran dalam deskripsi negara India dan rakyatnya. Seperti negara agama Zorastrime, kata tampaknya mengambil makna yang menghina. Dan tentu saja sebagai mana Islam menyebar di India, kata “Hindu” dan “Hindustan” menjadi semakin tidak dihormati dan bahkan dibenci di arena Persia, dan lebih menonjol dalam sastra Persia dan Arab setelah abad ke-11.

Pandangan lain sumber nama Hindu didasarkan pada makna menghina. Dikatakan bahwa, “Selain itu, benar bahwa nama ini [Hindu] telah diberikan kepada ras Arya asli daerah penyerbu Muslim untuk mempermalukan mereka. Dalam bahasa Persia, kata penulis kami, kata tersebut berarti budak, dan menurut Islam, semua orang yang tidak memeluk Islam disebut sebagai budak. “(Dayanand Saraswati Shri Maharishi Aur Unka Kaam, diedit oleh Lala Lajpat Rai, diterbitkan di Lahore, 1898 dalam Pendahuluan).

Lebih jauh lagi, sebuah kamus Persia berjudul Lughet-e-Kishwari, diterbitkan di Lucknow pada tahun 1964, memberikan arti kata Hindu sebagai “tugas [pencuri], dakoo [Perampok], raahzan [waylayer], dan Ghulam [budak].” Di kamus lain, bahasa Urdu-Feroze-ul-Laghat (Bagian Pertama, hal 615) Persia arti kata Hindu adalah lebih lanjut digambarkan sebagai Barda (hamba yang taat), sia faam (warna hitam) dan kaalaa (hitam). Jadi semua ini adalah ungkapan menghina untuk menerjemahkan istilah Hindu sebagai label Persia atas rakyat India.

Jadi, pada dasarnya, Hindu hanyalah kelanjutan dari istilah seorang muslim yang menjadi populer hanya dalam 1300 tahun terakhir. Dengan cara ini, kita dapat memahami bahwa ini bukan istilah Sansekerta yang valid, juga tidak ada hubungannya dengan budaya Veda atau jalan spiritual Veda. Tidak ada agama yang pernah ada yang disebut “Hinduisme” sampai orang-orang India pada umumnya memberi nilai pada nama itu, seperti yang diberikan oleh mereka yang didominasi atas mereka, dan menerima penggunaannya. Selanjutnya, istilah telah digunakan untuk menyampaikan konotasi merendahkan. Jadi, apakah itu tidak mengherankan bahwa beberapa acharya India dan organisasi Weda tidak peduli untuk menggunakan istilah?

Kebingungan yang sesungguhnya dimulai ketika nama “Hindu” digunakan untuk menunjukkan agama orang India. Kata-kata “Hindu” dan “Hinduisme” sering digunakan oleh Inggris dengan efek fokus pada perbedaan agama antara kaum muslim dan orang-orang yang menjadi dikenal sebagai “Hindu”. Ini dilakukan dengan niat yang agak sukses menciptakan gesekan di kalangan masyarakat India. Hal ini sesuai dengan kebijakan Inggris atas pembagian dan aturan untuk membuatnya lebih mudah bagi mereka yang terus berkuasa atas negeri itu.

Namun, kami harus menyebutkan bahwa orang lain yang mencoba untuk membenarkan kata “Hindu” sekarang adalah gagasan dari para Resi terdalu, beberapa ribu tahun yang lalu, juga disebut India tengah Hindustan, dan orang-orang yang tinggal di sana adalah Hindu. Sloka berikut, dikatakan dari Vishnu Purana, Padma Purana dan Samhita Bruhaspati, diberikan sebagai bukti, namun saya masih menunggu untuk mempelajari lokasi yang tepat di mana kita dapat menemukan ayat ini:

Beberapa referensi lain yang digunakan, meskipun lokasi yang tepat tidak saya yakini, meliputi:

Himalayam Samaarafya Yaavat Hindu Sarovaram

Tham Devanirmmitham desham Hindustanam Prachakshathe

Himalyam muthal Indian maha samudhram vareyulla

devanirmmithamaya deshaththe Hindustanam ennu parayunnu

Ini lagi menunjukkan bahwa daerah antara Himalaya dan Samudera Hindia disebut Hindustan. Dengan demikian, kesimpulan dari hal ini adalah bahwa semua orang India beragama Hindu tanpa memandang kasta dan agama. Tentu saja, tidak semua orang akan setuju dengan itu.

Orang lain mengatakan bahwa di dalam Rig Veda, Bharata disebut sebagai negara “Sapta Sindhu”, yaitu negara tujuh sungai besar. Hal ini, tentu saja, dapat diterima. Namun, tepatnya bab dan buku yang dapat berasal dari sloka ini perlu diluruskan. Meski demikian, beberapa orang mengatakan bahwa kata “Sindhu” merujuk pada sungai dan laut, dan tidak hanya ke sungai tertentu yang disebut “Sindhu”. Lebih jauh lagi, dikatakan bahwa dalam Weda Sansekerta, menurut kamus kuno, “sa” diucapkan sebagai “ha”. Jadi “Sapta Sindhu” diucapkan sebagai “Hapta Hindu”. Jadi, ini adalah bagaimana kata “Hindu” dianggap telah terwujud. Hal ini juga mengatakan bahwa Persia kuno Bharat disebut sebagai “Hapta Hind”, sebagaimana dicatat dalam klasik kuno mereka “Bem Riyadh”. Jadi, ini adalah alasan lain mengapa beberapa ahli mulai percaya bahwa kata “Hindu” itu berasal di Persia.

Teori lain adalah bahwa nama “Hindu” bahkan tidak berasal dari nama Sindhu. Mr A. Krishna Kumar dari Hyderabad, India menjelaskan. “Ini [Sindhu / Hindu] Pandangan ini tidak dapat dipertahankan karena India pada waktu itu mengagumkan peringkat tertinggi di dunia dalam hal peradaban dan kekayaan tidak akan tanpa nama. Mereka tidak aborigin yang tidak diketahui yang menunggu untuk ditemukan, diidentifikasi dan dibaptis oleh orang asing. “Dia mengutip sebuah argumen dari buku Self-Government di India oleh NB Pavgee, yang diterbitkan pada tahun 1912. Penulis menceritakan Swami tua dan sarjana sanskrit Mangal Nathji, yang menemukan Purana kuno yang dikenal sebagai Sham Brihannaradi di desa, Hoshiarpur, Punjab. Itu berisi sloka ini:

himalayam samarabhya yavat bindusarovaram

hindusthanamiti qyatam hi antaraksharayogatah

Sekali lagi lokasi yang tepat dari sloka tersebut dalam Purana hilang, tapi Kumar menerjemahkannya sebagai: “Negeri yang terletak di antara pegunungan Himalaya dan Bindu Sarovara (laut Cape Comorin) dikenal sebagai Hindusthan oleh kombinasi dari huruf pertama ‘hi’ dari ‘Himalaya’dan senyawa terakhir huruf ‘ndu’dari kata ‘Bindu’.”

Hal ini, tentu saja, dianggap telah melahirkan nama “Hindu”, menunjukkan asal pribumi. Kesimpulan bahwa orang-orang yang tinggal di daerah ini dengan demikian dikenal sebagai “Hindu”.

Jadi sekali lagi, dengan cara apapun teori-teori ini dapat menyajikan informasi mereka, dan dengan cara apa pun Anda melihat itu, nama “Hindu” mulai hanya sebagai tubuh dan penunjukan daerah. Nama “Hindu” menunjuk ke sebuah lokasi dan orang-orang dan awalnya tidak ada hubungannya dengan filsafat, agama atau budaya rakyat, yang pasti bisa berubah dari satu hal ke hal lain. Hal ini seperti mengatakan bahwa semua orang dari India adalah India. Tentu saja, yang dapat diterima sebagai nama yang mengacu ke sebuah lokasi, tapi bagaimana dengan agama mereka, iman dan filsafat? Ini dikenal dengan banyak nama sesuai dengan berbagai pandangan dan keyakinan. Jadi, mereka tidak semua orang Hindu, karena banyak orang yang tidak mengikuti sistem Veda sudah keberatan dengan menyebut diri mereka dengan nama itu. Maka “Hindu” bukanlah nama yang paling tepat dari sebuah jalan spiritual, tetapi istilah sanskrit Sanatana-dharma jauh lebih akurat. Budaya India kuno dan sejarah awal mereka adalah budaya Veda atau Veda Dharma. Sehingga lebih tepat untuk menggunakan nama yang didasarkan pada budaya bagi mereka yang mengikutinya, bukan nama yang hanya alamat lokasi suatu bangsa.

Tampaknya hanya dengan raja-raja Veda kekaisaran Wijayanagara pada tahun 1352 adalah kata “Hindu” digunakan dengan bangga oleh Bukkal yang menggambarkan dirinya sebagai “Hinduraya suratrana”. Sedangkan teks-teks Sansekerta utama, dan bahkan ritual-ritual yang telah dilakukan di kuil-kuil dari ribuan tahun yang lalu, menggunakan kata “Bharata” dalam referensi ke daerah saat ini india. Oleh karena itu, secara tradisional dan secara teknis lebih akurat untuk merujuk ke tanah India sebagai “Bharata” atau “Bharat varsha”.

Sayangnya, kata “Hindu” secara bertahap telah diadopsi oleh hampir semua orang, bahkan orang-orang India, dan sekarang diterapkan dalam cara yang sangat umum, begitu banyak sehingga, sebenarnya, bahwa sekarang “Hindu” sering digunakan untuk menjelaskan apa-apa dari kegiatan keagamaan bahkan kegiatan sosial India atau nasionalistis. Beberapa dari apa yang disebut “Hindu” peristiwa-peristiwa yang tidak didukung dalam literatur Veda, dan, karenanya, harus dianggap non-Veda. Dengan demikian, tidak sembarang orang bisa menyebut diri mereka sebagai “Hindu” dan masih dianggap sebagai pengikut jalan Veda. Juga bisa santai setiap aktivitas dapat disebut sebagai bagian dari Hindu dan berpikir panjang dianggap sebagai bagian dari budaya Veda sejati.

Oleh karena itu, jalan spiritual Veda lebih tepat disebut Sanatana-dharma, yang berarti abadi, pendudukan jiwa yang tidak berubah dalam hubungannya dengan Yang Mahatinggi. Sama seperti dharma dari gula adalah menjadi manis, ini tidak berubah. Dan jika tidak manis, maka itu bukan gula. Atau dharma dari api adalah untuk memberi kehangatan dan cahaya. Jika tidak seperti itu, maka itu bukan api. Dengan cara yang sama, ada Dharma tertentu atau sifat dari jiwa, yang Sanatana, atau abadi. Itu tidak berubah. Jadi ada keadaan dharma dan jalan dharma. Mengikuti prinsip-prinsip Sanatana-dharma dapat membawa kita kepada keadaan yang murni memperoleh kembali identitas rohani kita yang terlupakan dan hubungan dengan Tuhan. Ini adalah tujuan dari pengetahuan Veda dan sistem realisasi diri. Dengan demikian, pengetahuan tentang Veda dan semua literatur Veda, seperti pesan Krsna dalam Bhagavad-gita, serta ajaran-ajaran Upanishad dan Purana, tidak terbatas hanya “Hindu” yang terbatas pada wilayah tertentu atas planet atau keluarga kelahiran. Pengetahuan semacam itu sebenarnya dimaksudkan untuk seluruh dunia. Seperti setiap orang adalah makhluk rohani dan memiliki esensi spiritual yang sama seperti yang dijelaskan sesuai dengan prinsip-prinsip Sanatana-dharma, maka setiap orang harus diberi hak dan hak istimewa untuk memahami pengetahuan ini. Hal ini tidak dapat diadakan untuk kelompok atau wilayah eksklusif suatu penduduk.

Sanatana-dharma juga berkembang penuh filosofi spiritual yang mengisi celah-celah apa pun dapat dibiarkan oleh ajaran-ajaran filosofis agama lain yang kurang berkembang. Pengetahuan langsung tentang jiwa adalah sebuah “universal kebenaran rohani” yang dapat diterapkan oleh semua orang, dalam setiap bagian dunia, di setiap saat dalam sejarah, dan dalam setiap agama. Ini adalah abadi. Oleh karena itu, sebagai sebuah kebenaran rohani abadi, itu melampaui semua waktu dan sebutan duniawi. Pengetahuan tentang jiwa adalah esensi dari kebijaksanaan Veda dan lebih daripada apa arti nama “Hindu”, terutama setelah memahami dari mana nama itu datang.

Bahkan jika waktunya tiba pada zaman buruk Kali-Yuga setelah banyak ribuan tahun ketika agama Kristen, Islam, Buddha, dan bahkan agama Hindu (seperti yang kita sebut sekarang) mungkin hilang dari muka bumi, masih akan ada ajaran-ajaran Veda yang tetap sebagai sebuah kebenaran spiritual dan universal, bahkan jika kebenaran tersebut mungkin akan dilupakan dan harus didirikan kembali lagi di dunia ini oleh Tuhan Krsna sendiri. Aku ragu kemudian bahwa Beliau akan menggunakan nama “Hindu.” Beliau pasti mengatakan apa yang Beliau katakan ketika Beliau menyabdakan Bhagavad-gita terakhir kali.

Jadi, meskipun saya tidak merasa bahwa “Hindu” adalah istilah yang tepat untuk mewakili budaya Arya Veda atau jalan spiritual, saya juga menggunakan kata itu dari waktu ke waktu untuk arti yang sama karena sudah jadi bagian dari kosa kata semua orang . Kalau tidak, karena saya mengikuti jalan Veda Sanatana-dharma, saya menyebut diriku Sanatana-dharmist. Yang mengurangi kebutuhan untuk menggunakan label “Hindu” dan juga membantu memusatkan perhatian pada sifat universal jalan Veda. Oleh karena itu, saya mengusulkan bahwa semua orang yang menganggap dirinya sebagai orang Hindu mulai menggunakan istilah ini Sanatana-dharmist, yang tidak hanya mengacu pada terminologi Sansekerta yang benar, tapi juga lebih akurat menggambarkan karakter dan spiritual maksud sesungguhnya dari jalan Veda. Orang lain juga telah menggunakan istilah Sanatanis atau bahkan Dharmists, keduanya lebih dekat ke arti sesungguhnya dalam budaya Weda.

Namun, untuk tujuan-tujuan politik dan hukum mungkin nyaman untuk terus menggunakan nama Hindu untuk sementara waktu. Sampai istilah Sanatana-dharma atau Dharma Veda menjadi lebih diakui oleh hukum internasional dan masyarakat pada umumnya, “Hindu” dapat tetap berada di belakang istilah yang digunakan untuk pawai budaya Veda. Tapi dalam jangka panjang, itu adalah nama yang akan berubah dalam arti pandangan yang berbeda-beda karena kurangnya dasar linguistik yang nyata. Hanya didasarkan pada nilai-nilai orang-orang tempat di dalamnya, makna dan tujuan akan bervariasi dari orang ke orang, budaya ke budaya, dan tentu saja dari generasi ke generasi. Kita bisa melihat bagaimana hal ini terjadi dengan orang Inggris di India. Jadi, akan ada pelestarian masalah dengan nama dan mengapa beberapa orang dan kelompok tidak akan mau menerimanya.

Namun dengan terus-menerus dan meningkatnya penggunaan istilah Sanatana dharma atau Veda-dharma, setidaknya oleh orang-orang yang lebih sadar akan definitif dasar sanskrit istilah-istilah ini, mereka akan memperoleh pengakuan sebagai istilah yang lebih tepat. Itu hanya butuh waktu untuk membuat penyesuaian yang tepat.

Ini adalah cara untuk membantu menyembuhkan salah tafsir atau kesalahpahaman yang mungkin berasal dari penggunaan nama “Hindu,” dan juga mengakhiri alasan mengapa beberapa kelompok yang tidak peduli untuk mengidentifikasi diri mereka di bawah nama itu. Setelah semua, sebagian besar kelompok Veda, terlepas dari orientasi mereka dan jalan khusus yang mereka ikuti, pasti bisa bersatu di belakang istilah Veda Dharma.

LAMPIRAN: Srila Prabhupada, pendiri International Society of Krishna Consciousness, telah mengatakan hal yang berbeda pada waktu yang berbeda atau bagi orang yang berbeda mengenai penggunaan nama “Hindu”. Banyak kali anggota ISKCON tampaknya berpikir bahwa nama Hindu harus dihindari di semua biaya. Dan pada berbagai kesempatan Srila Prabhupada ISKCON bilang anggota tidak harus Hindu.

Namun, ia menjelaskan secara ringkas kepada Janmanjaya dan Taradevi dalam sebuah surat dari Los Angeles dari 9 Juli 1970 bahwa ada hubungan antara agama Hindu dan Krishna Consciousness: “Mengenai pertanyaan Anda: Hindu berarti budaya India. India kebetulan terletak di sisi lain Sungai Indus yang sekarang di Pakistan yang dieja Indus-dalam bahasa Sansekerta disebut Sindhu. Di mana “Sindhu” adalah salah eja oleh Eropa sebagai “Indus”, dan dari Indus kata ‘India’ datang. Demikian pula Arab biasanya mengucapkan sindhus sebagai Hindu. Ini [demikian] Hindu diucapkan sebagai Hindu. Ini bukanlah kata Sanskerta juga tidak ditemukan dalam literatur Veda. Tetapi budaya India atau Hindu adalah Veda dan mulai dengan Catur Varna dan Catur Ashrama. Jadi ini empat varna dan ashrama dimaksudkan untuk ras manusia yang benar-benar beradab. Oleh karena itu, kesimpulannya adalah sebenarnya ketika manusia beradab dalam arti sebenarnya dari istilah dia mengikuti sistem varna dan ashrama dan kemudian ia dapat disebut ‘Hindu’. Gerakan Kesadaran Krishna kita mengajarkan keempat varna dan empat ashrama, jadi tentu saja telah punya hubungan dengan Hindu. Jadi Hindu dapat dipahami dari sudut pandang budaya, bukan sudut pandang agama. Budaya tidak pernah agama. Religi adalah iman, dan budaya merupakan kemajuan pendidikan atau pengetahuan. ”

Dia lebih jauh mengatakan dalam sebuah surat dari Los Angeles, 16 Juli 1970, di mana dia menjawab pertanyaan untuk sebuah Nevatiaji: “9. Orang Amerika sangat cerdas dan anak laki-laki dan perempuan berkualitas sehingga mereka memahami prinsip-prinsip sebagaimana aslinya dan dengan demikian mereka menerimanya. Mereka memahami bahwa Gerakan Kesadaran Krsna bukanlah India atau Hindu, tetapi merupakan gerakan budaya bagi seluruh masyarakat manusia walaupun tentu saja karena yang datang dari India merupakan [orang] India dan Hindu sentuhan. ”

Dengan cara ini, Srila Prabhupada membedakan Kesadaran Krishna sebagai sebuah ke-universal-an, budaya dan gerakan spiritual yang dapat berdiri sendiri, terlepas dari agama tertentu dan perbedaan budaya. Namun, ia masih menceritakan bagaimana pastinya ada orang India dan Hindu memiliki hubungan dengan apa yang disajikan dalam gerakannya. Dan ini tidak harus dan tidak seharusnya benar-benar diabaikan atau dihindari. Kita tentu saja dapat bekerja sama untuk pelestarian dan promosi budaya Veda tanpa kesulitan dengan orang-orang yang mungkin lebih suka menyebut diri mereka Hindu, mengetahui hubungan kita dengan tradisi Veda.

AVATAR

Apakah Tuhan bisa menjelma ke dunia? Mungkin ini adalah pertanyaan yang sulit bagi agama non-Vedic karena sebagian besar dari agama-agama tersebut tidak mengakui perwujudan Tuhan. Hanya saja jika kita berani mengatakan Tuhan adalah Maha Mutlak, lalu apa sulitnya bagi Tuhan untuk mewujudkan diri dan muncul di alam material ini?

Sri Krishna dalam Bhagavad Gita 4.7 mengatakan bahwa dimanapun dan kapanpun pelaksanaan Dharma merosot dan Adharma merajarela, maka Beliau sendiri akan menjelma, “yad? yad? hi dharmasya gl?nir bhavati bh?rata abhyutth?nam adharmasya tad?tm?na? s?j?my aham”. Adapun misi dari Avatara ini lebih lanjut disampaikan dalam Bahagavad Gita 4.8, “paritr???ya s?dh?n?? vin???ya ca du?k?t?m dharma-sa?sth?pan?rth?ya sambhav?mi yuge yuge, menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma.

Kata Avatara dapat ditemukan dalam kitab P?nini 3.3.120. Dalam bahasa Inggris, kata Avatara biasanya diterjemahkan sebagai “incarnation” dan biasanya diterjemahkan sebagai “inkarnasi Tuhan”. Namun terjemahan ini pada dasarnya kurang tepat karena yang disebut sebagai Avatara bukanlah Tuhan yang terlahir ke dunia material, tetapi kemunculan atau perwujudan yang mengemban misi khusus dalam menjaga tatanan Dharma atas Adharma. Perwujudan inipun tidak semata-mata hanya merupakan perwujudan Tuhan, tetapi dewa atau jiva-jiva agung lainnyapun bisa hadir sebagai Avatara. Avatara yang merupakan perwujudan Tuhan yaitu yang termasuk dalam Dasa Avatara, dan juga Tri Purusa Avatara. Sedangkan yang termasuk dalam perwujudan Dewa yaitu Sankaracarya dan Virabhadra yang merupakan perwujudan dewa Siva serta Vakratunda, Ekadanta, Mahodara, Gajavaktra, Lambodara, Vikata, Vighnaraja, dan Dhumravarna yang merupakan perwujudan dewa Ganesha. Sedangkan Avatara yang digolongkan dalam penjelmaan Jiva-Jiva yang mengemban misi khusus salah satunyanya dalah Nabi Isa yang dalam kitab Veda dikatakan sebagai Isaputra dan juga Muhammad.

Sepuluh Avatara Tuhan yang paling dikenal umat Hindu yang disebut Dasa Avatara diuraikan dalam Garuda Purana 1.86.10–11. Empat Avatara yang pertama dikatakan telah muncul pada Satya Yuga. Tiga avatar berikutnya muncul pada Treta Yuga, yang kedelapan pada dwapara Yuga dan kesembilan pada Kali Yuga. Sedangkan avatara kesepuluh, Kalki Avatara, diperkirakan muncul pada akhir Kali Yuga yang juga merupakan pertanda dimulainya siklus Yuga yang baru. Adapun masing-masing Avatara tersebut adalah;

  1. Matsya, yaitu perwujudan Tuhan sebagai ikan besar yang menyelamatkan Manu dari banjir besar.
  2. Kurma, merupakan perwujudan Tuhan sebagai kura-kura raksasa untuk menopang gunung Mandara dalam usaha para dewa dan asura dalam memperoleh tirta amerta dengan cara mengaduk lautan garbha.
  3. Varaha, merupakan perwujudan Tuhan sebagai babi hutan raksasa yang menyelamatkan bumi yang terlempar dari orbitnya dan membunuh raksasa Hiranyaksa.
  4. Narasimha, adalah perwujudan Tuhan sebagai manusia berkepala singa yang membunuh raja Hiranyakasipu yang kejam untuk menyelamatkan Prahlada yang merupakan pemuja Tuhan yang sangat taat.
  5. Vamana, adalah perwujudan Tuhan sebagai manusia cebol dan kerdil yang akhirnya mengalahkan keangkuhan Raja Bali.
  6. Parashurama, Penjelmaan Tuhan sebagai seorang pendeta Kesatria yang bersenjatakan kapak dan membunuh seribu raja-raja lalim di muka bumi ini.
  7. Rama, adalah penjelmaan Tuhan sebagai putra mahkota Ayodhya dan kisahnya dituliskan dalam kitab Ramayana oleh Maha Rsi Valmiki
  8. Krishna, adalah perwujudan Tuhan yang dituliskan dalam kitab Mahabharata yang ditulis oleh pengkodifikasi Veda sendiri, Maha Rsi Vyasa. Sebagaimana dijelaskan dalam Bhagavata Purana 1.3.28, kemunculan Krishna adalah kemunculan Tuhan dalam wujudnya yang asli (Bhagavan) dan merupakan sumber dari semua Avatara (Avatir).
  9. Gautama Buddha, yaitu kemunculan Tuhan sebagai putra raja di Kapilavastu dengan nama kecil Siddhattha Gotama dan memiliki misi mengembalikan ajaran Veda yang ditafsirkan keliru oleh para kaum Brahmana.
  10. Kalki, merupakan Avatara Tuhan yang diperkirakan akan muncul dengan mengendarai kuda putih dan bersenjatakan pedang terhunus dalam membasmi orang-orang jahat pada akhir Kali Yuga.

Dalam Bhagavata Purana Skanda satu juga dijelaskan 22 Avatara yang merupakan Perwujudan Visnu sendiri. Ke-22 Avatara tersebut yaitu;

  1. Catur Kumara, yaitu penjelmaan sebagai empat putra Dewa Brahma yang selalu berpenampilan seperti anak-anak sepanjang jaman (Bhagavata Purana 1.3.6)
  2. Varaha (Bhagavata Purana 1.3.7)
  3. Narada adalah perwujudan sebagai Rsi yang selalu keliling alam semesta dan senantiasa mengagungkan nama “Narayana”. (Bhagavata Purana 1.3.8)
  4. Nara-Narayana, yaitu perwujudan dua orang rsi kembar yang sangat bijak (Bhagavata Purana 1.3.9)
  5. Kapila adalah Rsi yang mendirikan filsafat Samkya, yaitu salah satu cabang filsafat yang mengedepankan metodologi ilmiah dalam Veda (Bhagavata Purana 1.3.10)
  6. Dattatreya digambarkan sebagai Avatara gabungan antara Brahma, Visnu dan Siva putra dari Rsi Atri and Anas?y? (Bhagavata Purana 1.3.11)
  7. Yajna, Putra Prajapati Ruci dan istrinya ?k?ti. Yang mengendalikan periode selama perubahan dari Sv?yambhuva Manu dan dibantu oleh para dewa seperti dewa Yama (Bhagavata Purana 1.3.12)
  8. Rishabha adalah penjelmaan sebagai seorang Raja, putra Raja Nabhi dan istrinya Merudev?. Dan memberikan contoh kesempurnaan hidup kepada umat manusia (Bhagavata Purana 1.3.13)
  9. Prithu yaitu penjelmaan sebagai raja dalam usahanya menghasilkan berbagai hasil petanian demi kesejahtraan kehidupan di Bumi (Bhagavata Purana 1.3.14)
  10. Matsya (Bhagavata Purana 1.3.15)
  11. Kurma (Bhagavata Purana 1.3.16)
  12. Dhanvantari, yaitu penjelmaan Tuhan sebagai pengajar ilmu pengobatan Ayurveda yang kita warisi sampai sekarang (Bhagavata Purana 1.3.17)
  13. Mohini, yaitu penjelmaan Tuhan sebagai wanita cantik yang mengelabui para asura dan memberikan tirta amerta pada para dewa saat pengadukan gunung Mandara (Bhagavata Purana 1.3.17)
  14. Narasimha (Bhagavata Purana 1.3.18)
  15. Vamana (Bhagavata Purana 1.3.19)
  16. Parasurama (Bhagavata Purana 1.3.20)
  17. Vyasa, yaitu Avatara Tuhan sebagai Maha Rsi yang berperan aktif mengkodifikasi Veda dan menuliskan purana-purana dan Itihasa sehingga menjamin keotentikan kitab suci Veda (Bhagavata Purana 1.3.21)
  18. Rama (Bhagavata Purana 1.3.22)
  19. Balarama (Bhagavata Purana 1.3.23)
  20. Krishna (Bhagavata Purana 1.3.23)
  21. Buddha (Bhagavata Purana 1.3.24)
  22. Kalki (Bhagavata Purana 1.3.25)

Selain ke-22 Avatara yang dijelaskan secara berurutan, dalam sloka-sloka berikutnya juga dijelaskan beberapa Avatara yang lainnya, yaitu antara lain:

  1. Prshnigarbha (Bhagavata Purana 10.3.41)
  2. Hayagriva (Bhagavata Purana 2.7.11)
  3. Hamsa (Bhagavata Purana 11.13.19)
  4. Avatra emas (Bhagavata Purana 11.5.32)

Yang dimaksud sebagai Avatara emas ini adalah Chaitanya Mahaprabhu yang muncul 500 tahun yang lalu dengan warna kulit seperti emas lumer dan menyebarkan gerakan Hari-nama Sankirtana.

Disamping itu, berdasarkan pada fungsinya dalam penciptaan alam semesta, juga dikenal istilah Purusa Avatara, yaitu Karanodakasayi Vishnu yang juga disebut Maha Visnu yang berbaring di lautan Ksirodaka dimana dari setiap pori-pori badan beliau muncul 1 alam semesta, Garbhodakasayi Vishnu adalah Ia yang masuk kedalam setiap satu alam semesta dan berbaring di lautan Garbhodaka dan dari pusar beliau muncul perwujudan seperti bunga padma dimana di atas bunga padma tersebut mahluk hidup pertama, Dewa Brahma dilahirkan, dan yang terakhir Ksirodakasayi Vishnu yang ada dalam setiap atom dan mahluk hidup.

Dalam fungsinya sebagai pengendali Tri Guna, atau tiga sifat alam (Satvam, Rajas dan Tamas) dikenal istilah Tri Guna Avatara, yaitu ekspansi Tuhan sebagai Brahma yang mengendalikan Rajas, Visnu mengendalikan Satvam dan Siva yng mengendalikan Tamas.

Sedangkan penjelmaan yang bertindak untuk menciptakan keturunannya di seluruh Semesta di alam material ini disebut dengan sebutan Manvantara Avatara.

Dismping jenis-jenis Avatara di atas, juga dikenal istilah Shaktyavesa dan Avesa Avatara, Purna dan Amsarupa avatara dan sebagainya.

Sumber:

  1. www.wikipedia.org
  2. www.vedabase.net
dikutip oleh iant Sulistiyanto
dari Vedasastra.com

Asal-usul Linggam Siva

IGN.Heka Wikana


Dalam Mahabharata Anussasana–Parva Bab XIX disebutkan bahwa Maharaja Yudhisthira mohon kepada kakeknya Bhisma agar menjelaskan tentang keagungan Dewa Siva. Kemudian Bhisma menjawab, Satu-satunya orang diseluruh alam semesta ini yang mengerti tentang siapa Dewa Siva adalah Krishna.

Seluruh tubuh dilumuri/dilumasi abu mayat yang berasal dari krematorium, badan berhiaskan tulang –tulang dan tengkorak manusia serta ular-ular berbisa, mengenakan jubah kulit binatang dengan dahi berhiaskan tilaka berupa tiga garis datar, adalah penampilan Dewa Siva yang sulit dimengerti. Apalagi kegiatan-kegiatannya memberikan berkah kepada para asura, minum lautan racun, mengajarkan pilsafat impersonal dalam wujud Sankaracarya dan membiarkan dirinya di puja oleh Sri Ramachandra (yang menjadi pujaannya)

Dari begitu banyak hal mengenai Dewa Siva, satu hal yang paling banyak mengagetkan banyak orang adalah pemujaan kepada kelaminnya yang disebut Siva Linga. Mengapa kitab suci Veda mengajarkan pemujaan kepada kelamin lelaki? Bagaimana ceritra yang melatarbelakangi pemujaan ini? Dalam penjelasannya atas sloka Caitanya-Caritamrta Madhya-Lila 20.273, Srila Prabhupada memaparkan makna simbolik pemujaan Siva –Linga. Beliau menjelaskan sebagai berikut :

“Dewa Siva dianggap ayah alam semesta material dan alam material dianggap sebagai ibu. Sang ayah dan sang ibu ini dikenal sebagai Dewa Siva dan Durga dewi. Keduanya adalah merupakan kelamin Dewa Siva dan kelamin devi Durga dipuja sebagai Siva-Linga. Keduanya adalah asal mula seluruh ciptaan alam material ini. Dengan demikian, kedudukan Dewa Siva adalah beliau berada antara makhluk hidup dan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kata lain Dewa Siva bukanlah kepribadian Tuhan, dan bukan pula tergolong makhluk hidup biasa. Beliau adalah perwujudan kepribadian yang dipakai bekerja oleh Tuhan untuk melahirkan para makhluk hidup di dunia material”.

Dalam Padma Purana skanda I Bab XVI dan XVII, dijelaskan satu ceritra menarik yang melatar belakangi pemujaan kelamin Dewa Siva. Dikatakan bahwa dahulu kala kurban suci (yajna) besar dilaksanakan oleh Dewa Brahma di Puskara. Hadir dalam acara itu adalah; Sri Visnu, Siva, Indra dan para Dewa lainnya. Ketika waktu bertuah akan segera dimulai korban suci tersebut, Dewa Brahma menyuruh pembantunya untuk memanggil sang istri, Savitri devi, sebab seseorang tidak bisa melaksanakan yajna tanpa kehadiran sang istri. Pembantu itu kemudian pergi dan mendatangi Savitri devi dan berkata: “Oh Devi, cepatlah datang, api kurban suci telah dinyalakan dan waktu untuk memulai kurban suci telah dekat”.

Kemudian Savitri devi menjawab; “saya belum menghias rumah dengan baik, belanga dan kendi belum dicuci. Lagi pula, devi Laksmi istri Narayana belum tiba. Begitu pula Svaha istri Dewa Agni, Dhumorna istri Dewa Yamaraja, Gauri istri Varuna, Ganga atau Sarasvati dan juga Arundhati istri Vasistha serta wanita terhormat lain belum datang. Tolong beritahu suamiku Dewa Brahma, agar menunggu sebentar dan saya akan segera datang begitu semua wanita terhormat itu tiba.”

Kemudian sang pembantu kembali ke tempat upacara kurban suci, dan memberitahukan kepada Dewa Brahma bahwa Savitri devi sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah-tangga dan tidak akan datang sebelum para sahabatnya itu tiba. Mendengar hal itu, Dewa Brahma jadi sedikit marah, dan menyuruh Dewa Indra segera pergi untuk mencarikan seorang wanita sebagai pengganti istrinya karena waktu bertuah untuk memulai kurban suci segera akan dilakukan.

Setelah mencari kesana kemari di Bumi, Dewa Indra melihat seorang wanita gembala sapi yang bernama Gayatri devi. Mengetahui bahwa si wanita masih gadis, dan kecantikannya jauh melebihi kecantikan wanita-wanita diplanet Sorgawi, tanpa mohon ijin dari ayah si gadis, Dewa Indra langsung saja membawa Gayatri devi menghadap Dewa Brahma. Begitu saling pandang Gayatri devi dan Dewa Brahma, keduanya langsung saling jatuh cinta. Kemudian atas perintah Sri Visnu, keduanya segera dinikahkan dengan upacara perkawinan yang disebut Gandharva – Vivaha.

Selanjutnya Gayatri devi diberikan tempat duduk kehormatan yang biasanya disediakan untuk istri Dewa Brahma yaitu Savitri devi, dan acara korban suci pun dimulai. Yajna besar itu berlangsung selama lebih dari 100 tahun Dewa ketika akhirnya Savitri devi, istri Dewa Brahma, tiba bersama Laksmi devi, Gauri devi dan istri para Dewa-Dewa lainnya. Melihat Savitri devi tiba, Dewa Visnu, Siva, Brahma, Indra dan semua para Dewa lainnya jadi malu dan takut. Savitri devi, kemudian melihat Gayatri devi duduk ditempat duduk yang seharusnya disediakan untuknya disamping Dewa Brahma. Kedua mata Savitri devi jadi marah dan dengan marah dia berkata kepada Dewa Brahma,”Kurban suci macam apa yang anda laksanakan dimana anda mencampakkan saya dan mengambil istri lain?”. Dewa Brahma berusaha menjelaskan kepada istrinya Savitri devi, bahwa para pandita upacara memberitahu kepadanya bahwa waktu untuk memulai upacara kurban suci telah tiba, dan tanpa istri upacara ini tidak dapat dilaksanakan. Maka atas perintah Dewa Brahma, Dewa Indra disuruhnya mencarikan istri lain yang secara pribadi diberikan kepada Dewa Brahma oleh Sri Visnu. Walaupun Dewa Brahma minta maaf kepada istrinya, namun Savitri devi bahkan menjadi semakin marah dan mengutuk para Dewa, dan semua kepribadian yang ada ditempat upacara tersebut. Kutukan kepada Dewa Siva adalah kelaminnya akan lepas dari dirinya. Kemudian Savitri devi berlari keluar meninggalkan para hadirin yang dalam keadaan kebingungan.

Semua yang hadir menjadi diam, kemudian Gayatri devi berdiri dan memberikan berkah untuk meniadakan akibat yang timbul dari kutukan Savitri devi. Gayatri devi juga memberkati Dewa Siva bahwa meskipun kelaminnya lepas dari dirinya, namun kelaminnya akan tetap suci dan akan dipuja oleh orang-orang diseluruh tiga dunia. Sejak saat itu, mereka yang ingin dapat anugrah dari Dewa Siva, memuja beliau dalam wujud LINGA-nya.

Sumber : Sri Krishna Kathamrta

dikutip oleh Iant Sulistiyanto

Sumber vedasastra.com

Bulan Sabit di Kepala Dewa Siva


Mengapa ada bulan sabit dikepala dewa Siva? Berikut adalah jawabannya, Dalam Bab VI skanda VI Srimad Bhagavatam disebutkan bahwa Prajapati Daksa menikahkan dua puluh jujuh putrinya dengan Dewa Chandra, penguasa Bulan, kemudian Daksa mengutuk Chandra dengan penyakit parah sehingga membuat Chandra tidak mampu memperoleh anak-anak dari semua istrinya.

Cetitra berikut diambil dari Brahma-Vaivarta Purana Brahma-khanda 9.49-53;

Chandra, mempunyai dua puluh tujuh istri , dari semua istrinya ini, Rohini yang paling cantik dan bergairah sangat disayangi oleh Dewa Chandra. Karena cintanya kepada Rohini, Dewa Chandra melalaikan kewajibannya kepada istri-istrinya yang lain, kemudian para istri-istri Dewa Chandra yang lain tersebut yang juga putri-putri Daksa, mengeluh kepada sang ayah. Karena merasa ditelantarkan putri-putrinya, Daksa menjadi murka, dan mengutuk Chandra. Karena dikutuk, Dewa Chandra menderita penyakit paru-paru. Dari hari ke hari kekuatan dan cahaya Dewa Chandra berkurang. Akhirnya Dewa Chandra minta perlindungan kepada Dewa Siva. Dewa Siva yang penuh kasih melegakan hati Chandra yang menderita sakit paru-paru dan menaruh Bulan di kepala Nya.

Dengan menumpang di kepala Dewa Siva, Chandra/Bulan menjadi kekal dan bebas dari segala bahaya.

Tam sivah sekhare krtva cabhavac chandrasekharah,

Nasti devesu lakesu sivac caharana-pancarah

Kemudian Dewa Siva dikenal dengan nama Chandrasekhara, sebab beliau menaruh Bulan di kepalanya. Oh para Dewa, tidak ada seorangpun yang lebih berkasih sayang selain Dewa Siva (sloka 59)

Mengetahui sang suami telah meninggalkan dirinya, putri-putri Daksa itu sedih dan menangis, lalu mereka datang menghadap sang ayah Daksa, putra Dewa Brahma. Putri-putri Daksa berkata, “Oh Ayah, dahulu kami mohon kepadamu agar kami mendapat berkah dari suami, tetapi kini bukan mendapat berkah darinya, melainkan dia telah meninggalkan kami. Oh Ayah,meskipun kami memiliki mata,kami hanya menemukan kegelapan di mana-mana. Sekarang kami sadar bahwa suami adalah mata satu-satunya bagi wanita.

Bagi wanita, suami itu sendiri adalah Narayana, ikrar dan agama purba. Wanita yang membenci atau mendengki suami malang dan bajik dan meninggalkannya, akan menderita di neraka jahanam selama matahari dan bulan bersinar di Bumi. Di sana (neraka) serangga-serangga yang bagaikan anjing menggigit dia siang malam. Bila lapar, dia terpaksa makan daging mayat. Dan untuk meniadakan rasa haus dan dahaga, dia terpaksa minum air kencing.

Selanjutnya dia harus lahir berkali-kali sebagai burung nazar (yang memakan bangkai), terus lahir sebagai babi betina selama seratus tahun, kemudian sebagai binatang buas selama seratus kali kelahiran. Ketika pada akhirnya dia lahir lagi sebagai manusia, dia jadi Janda, pengemis dan terus sakit-sakitan.

‘”Mohon kembalikan suami kami, Anda adalah putra Dewa Brahma, dan anda cukup perkasa untuk menciptakan sendiri satu alam semesta “

Mendengar kata-kata dari semua putrinya itu, Daksa lalu pergi menghadap Dewa Siva, Dewa Siva bangkit dari tempat duduknya, dan sujud menghormati Daksa. Daksa lalu memberkati Dewa Siva, melihat perilaku Dewa Siva yang rendah hati, kemarahan Daksa menjadi hilang;

Kemudian Daksa berkata, Oh Dewa Siva, mohon kembalikan menantuku yang dicintai oleh putri-putriku yang melebihi nyawanya sendiri. Anda juga adalah menantuku. Jika anda tidak mengembalikan Chandra kepadaku, saya akan ucapkan kutukan keras atas dirimu “.

Setelah mendengar Daksa bicara, Dewa Siva mengucapkan kata-kata yang terdengar lebih manis dari amrita. Dewa Siva berkata” Anda boleh bakar saya jadi abu, atau ucapkan satu kutukan atas diriku sesuai kehendakmu, tetapi saya tidak bisa mengembalikan Chandra (Bulan) yang telah berlindung kepadaku.”

Mendengar kata-kata Dewa Siva demikian, Daksa hendak mengucapkan kutukan atas Dewa Siva, Dewa Siva ingat Govinda, pada saat itu pula Sri Krishna muncul disana dalam wujud seorang Brahmana tua. Baik Dewa Siva maupun Daksa sujud kepada Brahmana tersebut dengan penuh hormat. Beliau memberkati mereka berdua dan berkata kepada Dewa Siva:

Sri Krishna berkata; “Oh Siva, tidak ada apapun yang lebih disayangi oleh semua mahluk hidup selain dirinya sendiri. Dengan merenungi hal ini, Oh penguasa para Dewa, anda hendaknya selamatkan dirimu dengan memberikan Chandra kepada Daksa. Anda adalah tempat berlindung terbaik, anda tenang, anda adalah Vaisnava yang paling terkemuka dan anda memperlakukan segala makhluk dengan cara yang sama. Anda bebas dari tindak kekerasan dan kemarahan. Daksa adalah putra perkasa Dewa Brahma dan dia berwatak pemarah. Dewa yang mulia mengalah dihadapan yang sedang marah”.

Dewa Siva tersenyum dan berkata: saya bisa mengorbankan pertapaan saya, kemuliaan saya, semua keberhasilan saya, kekayaan dan bahkan nyawa saya sendiri. Tetapi saya tidak bisa meninggalkan orang yang telah berlindung kepada saya. Dia yang telah mencampakkan seseorang yang telah berlindung kepadanya, akan ditinggalkan oleh Dharma. Oh Tuhanku, anda tahu betul tentang Dharma. Mengapa anda mengucapkan kata-kata yang dipengaruhi khayalan? Anda adalah pencipta dan pelebur segala sesuatu. Orang yang berbhakti kepada Mu tidak takut kepada siapapun.

Tuhan yang mengetahui betul perasaan setiap orang, mendengar kata-kata Dewa Siva dengan seksama. Kemudian beliau mengambil setengah bagian Chandra (Bulan) yang sakit dan memberikannya kepada Daksa. Selanjutnya Beliau mengambil setengah bagian Bulan yang sehat dan menaruhnya di kepala Dewa Siva.

Melihat Bulan tergerogoti oleh penyakit paru-paru, Daksa kemudian berdoa kepada Sri Krishna. Beliau lalu mengatur bahwa Bulan akan bercahaya penuh selama dua minggu, dan tidak akan bercahaya selama dua minggu berikutnya. Demikianlah, setelah memberkati Dewa Siva dan Daksa, Sri Krishna kembali ketempat tinggal Nya.

Sumber : Sri Krishna Kathamrta

Dikutip Dari vedasastra.com